Napak Tilas Islamedia Di 2011

Islamedia - Pembaca yang di rakhmati Alloh, alhamdulillah hari-hari di tahun 2012 sudah kita jalani dan tahun 2011 sudah berlalu. Ada banyak kenangan bertaburan di tahun ini. Termasuk bagi islamedia.
Ilmuwan MITI Temukan Alat Pembasmi Kanker Otak
Dr. Warsito P Taruno ceritajeruk.blogspot.com)
dakwatuna.com –Bogor. Sekelompok ilmuwan CTech Laboratory, sebuah lembaga riset yang berafiliasi dengan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), berhasil menemukan alat pembasmi kanker otak.
(Temuan) ini sebuah terobosan di dunia kedokteran yang telah berhasil dilakukan ilmuwan Indonesia, kata pimpinan tim peneliti CTech Laboratory, Dr Warsito P Taruno Warsito, melalui surat elektronik di Bogor, Senin.
“Ini pengembangan alat dari riset kami di bidang tomografi. Setelah alat pembasmi kanker payudara, kami berhasil mendesain alat pembasmi kanker otak,” tambahnya.
Dengan menggunakan prinsip yang sama pada alat pembasmi kanker payudara, yaitu menerapkan metode radiasi listrik statis, katanya, temuan itu telah diuji coba pada seorang pasien penderita kanker otak kecil.
“Alhamdulillah, setelah pemakaian dua bulan pasien dinyatakan sembuh total. Saya baru mendapat salinan hasil CT-Scan otak pasien oleh tim dokter rumah sakit,” kata Warsito yang juga Ketua Umum MITI.
Kesuksesan tim dari CTech yang didukung oleh perusahaan Edwar Technology ini dipaparkan dalam forum pertemuan yang dihadiri tidak kurang dari 1.500 peserta dari berbagai kampus di Sumut, Sumbar dan Aceh.
Dalam seminar yang juga menghadirkan mantan Menristek Suharna Surapranata dan staf pengajar USU Dr Yani Absah tersebut, Warsito menceritakan proses terapi dari pasien penderita kanker otak kecil (cerebellum) yang saat pertama datang dalam kondisi yang mengenaskan.
“Karena otak kecil sebagai pengendali sistem motorik tubuh, maka pasien sudah tak bisa menggerakkan seluruh ototnya. Dia hanya bisa terbaring dan tak mampu bergerak, termasuk menelan makanan atau minuman yang diasupkan ke mulutnya,” katanya.
Tim peneliti kemudian merancang perangkat yang disesuaikan dengan diagnosis dokter.
Dalam terapi ini, kata Warsito menjelaskan, pihaknya memang bekerja sama dengan tim dokter ahli radiologi dan onkologi dari sebuah rumah sakit besar di Jakarta.
“Reaksi positif sudah kami peroleh dalam beberapa hari pemakaian. Pasien sudah bisa tersenyum dan sepekan kemudian sudah bisa menerima asupan makanan dan minuman dari mulutnya. Kondisi semakin membaik dalam waktu sebulan karena ia sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Dan puncaknya, dua bulan setelah terapi, pasien dinyatakan sembuh total dari kanker otaknya,” katanya.
Ia mengatakan, metode radiasi listrik statis berbasis tomografi ini, sepenuhnya hasil karya anak bangsa yang bakal menjadi terobosan dalam dunia kedokteran.
Selain akan merevolusi pengobatan kanker secara medis, kata dia, juga akan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya.
“Yang pasti ini akan mengubah metode pengobatan yang selama ini menggunakan radiasi berisiko tinggi dan berbiaya mahal,” katanya.
Warsito mengakui bila ini masih dalam taraf penelitian yang perlu dielaborasi lebih jauh.
“Perlu kajian dan penelitian lebih lanjut. Mungkin ada hal-hal yang kami belum ketahui, khususnya dalam dunia medis,” katanya.
Sementara, mantan Menristek, Suharna Surapranata, menyambut baik temuan dari tim CTech dan MITI ini.
Menurut dia, perlu kajian lebih lanjut dan partisipasi banyak pihak yang berkepentingan guna mendapatkan hasil yang lebih baik.
“Kalau mendengar paparan beliau, saya kira ini satu hal yang luar biasa dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya pemerintah. Juga para pemangku kebijakan dari bidang kesehatan agar hasil penelitian dan penemuan ini memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia dan dunia,” demikian Suharna Surapranata. (ANT-053/A027/B Kunto Wibisono/Ant)
Jalan Cinta Para Pejuang
Judul: Jalan Cinta Para Pejuang
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Tahun terbit: Mei – 2009
Tebal Buku: 344 halaman
dakwatuna.com – “Hari-hari kita pada umumnya memprioritaskan emosi yang dominan cinta dalam jiwa. Jika kita ingin mengubah segala sesuatu dalam jiwa, tentu diawali dengan mengubah cinta, jiwa dan dunia.”
Mencintai mempunyai arti yang luas, apakah selalu mengorbankan jiwa dan raga demi orang yang dicintai dengan menghilangkan akal sehat? Tentu saja tidak.
Dalam buku ini, cinta memiliki banyak rasa. Cinta ada saat menikmati kesusahan, kegelisahan dan kesedihan. Jiwa ini seperti cermin, jika kita diberi rangsangan untuk tersenyum pasti perasaan kita bahagia. Jika kita ingin bahagia awali agar hati dan jiwa kita untuk selalu tersenyum membahagiakan diri sendiri dan orang lain.
Sudah saatnya kita menaklukkan emosi serta menaklukkan hawa nafsu. Terkadang kita mencintai seseorang dengan menggantungkan kebahagiaan untuk selalu bersamanya. Namun di saat dia tidak memberi kesempatan pada kita, itu menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena mencintai ataupun karena cinta itu sendiri tapi karena kita salah meletakkan kebahagiaan cinta itu dalam arti kebersamaan.
Kata ‘menaklukkan’ sangatlah hebat, kita harus mengenali apa yang akan kita taklukkan. Setelah mengenali, barulah kita paham apa saja yang dibutuhkan dalam menaklukkan tujuan kita itu. Selain kebutuhan secara jasmani, kebutuhan spiritual sangat dibutuhkan dalam menapaki perjalanan untuk mencapai tujuan. Kita boleh saja percaya adanya keajaiban tapi jangan bergantung pada keajaiban karena ada yang lebih memegang kendali agar keajaiban itu terjadi yaitu Allah SWT.
Dengan apa kita menaklukkan dan menghadapi musuh dunia? Tentu saja dengan cinta. Karena kita belajar apa itu cinta dari segala sesuatu yang ada di bumi. Dengan cinta di koridor yang benar, akan kita nikmati perjalanan mencapai cita dan harapan Ilahi. “Ya Allah letakkanlah dunia dalam genggamanku bukan dalam hatiku…”
Buku yang membahas perjalanan cinta para pejuang di jalan Allah yang diharapkan tidak memaknai cinta sekedar nafsu saja tetapi juga meluapkan cinta atas dasar ibadah kepada Allah. Penyampaian buku yang sangat menarik dengan dibumbui cerita-cerita Nabi serta sahabatnya benar-benar menginspirasi bagi pembaca. Selamat membaca!
140 Emas, Indonesia Pastikan Juara Umum SEA Games
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Kontingen Indonesia meraih 140 medali emas hingga Sabtu (19/11) pukul 22.00 WIB semalam. Hasil ini memastikan Indonesia finis sebagai juara umum SEA Games XXVI.
“Kita sudah dipastikan menjadi juara umum. Tapi, target kami meraih 155 medali emas dan masih beberapa cabang yang akan dipertandingakan,” kata Chef de Mission Indonesia, Tono Suratman, ketika dihubungi Republika.
Pada hari kesembilan SEA Games, Indonesia mendapat tambahan 15 medali emas, 20 perak, dan 13 perunggu. Bulutangkis menjadi penyumbang emas terbanyak dengan empat emas, disusul Kempo, wushu, dan soft tenis dengan dua emas.
SEA Games 2011 masih akan memperebutkan medali emas pada beberapa cabang olah raga, seperti balap sepeda trek, sepak bola, paralayang, dan judo. Tono mengatakan skuad Merah Putih diprediksikan masih akan mampu mendulang 13 medali emas pada tiga hari sebelum SEA Games berakhir.
“Jumlahnya memang 153 medali emas. Kalaupun tidak sesuai target, tapi tidak jauh selisihnya. Artinya, kami dapat mendekati estimasi,” ujarnya. ”Dengan kita juara umum, Satlak Prima sudah sukses di sistem pembinaan dan pelatihan.”
Keislaman Indonesia : Sebuah Refleksi
oleh Komaruddin Hidayat*
sebuah penelitian sosial bertema “How Islamis are Islamic Countries” menilai
Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling Islami di antara 208
Negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas
pendududknya Muslim menempati urutan ke-140.
Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington
University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global
Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah
seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim
dalam kehidupan bernegara dan sosial?
Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari AlQuran dan
Hadis, dikelompokkkan menjadi 5 Aspek, pertama Ajaran islam mengenai hubungan
sesorang dengan Tuhan dan Hubungan sesama manusia. Kedua, Sistem ekonomi dan
prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, Sistem
Peundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik.
Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan Internasional dan masyarakat
non-Muslim.
Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas
Keberislaman 56 Negara Muslim yang menjsi anggota Organisasi Kerja Sama Islam
(OKI), yang rata-rata berada berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara
yang disurvei.
Pengalaman UIN Jakarta
Kesimpulan penelitian di atas tak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan
beberapa Ustad dan kiai sepulang dari Jepang selama 2 minggu di Negeri Sakura.
Program ini sudah berlangsung selama enam tahun atas Kerjasama UIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta dengan Kedutaan Besar Jepang di jakarta.
Para Ustad dan Kiai difasilitasi untuk melihat dekat kehidupan sosial di sana dan
bertemu sejumlah tokoh. Setiba di tanah Air, hampir semua mengakui bahwa
kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang
mereka jumpai, bik di Indonesia maupun Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre,
menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai islam yang lain
yang justru sulit ditemukan di Indonesia.
Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, Ulama Besar Mesir, setelah
berkunjung ke Eropa, “saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang
Muslim banyak saya temukan di dunia Arab”, katanya.
Kalau saja indikator penelitian untuk menimbang keberislaman masyarakat itu
ditekankan pada aspek ritual-individual, saya yakin Indonesia akan menduduki
peringkat pertama menggeser Selandia Baru.Jumlah yang pergi haji setiap tahun
meningkat, selam Ramadhan masjid penuh dan pengajian semarak di mana-mana. Tidak
kurang dari 20 stasiun Televisi di Indonesia setiap hari menyirkan dakwah agama.
Terlebih lagi selama bulan Ramadhan, hotel pun diramaikan oleh tarawih bersama.
Ditambah lagi yang namanya Ormas dan Parpol Islam yang terus bermunculan.
Namun, pertanyaan yang dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan smarak ritual,
melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan sosial berdasarkan
ajaran Al Quran dan Hadis.
Contoh Perilaku sosial di Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah
maraknya korupsi, sistem ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan yang tidak merata,
persamaan hak bagi setiap warga negara untuk memperoleh pelayanan negara dan
untuk berkembang, serta banyak asset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam islam
ternyata lebih mudah ditemukan di masyarakat Muslim ketimbang negara-negara
Barat. Kedua peneliti menyimpulkan: … it is our belief that most self-declared
and labeled Islamic Countries are not conducting their affairs in accordance with
Islamic teachings - at least when it comes to economic, financial, political,
legal, social and governance policies.
Dari 56 Negara anggota OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia(
urutan ke-38), Kuwait(48), UAE(66), Maroko(119), Arab saudi (131),
Indonesia(140), Pakistan(147), Yaman(198), dan yang terburuk adalah Somalia(206).
Negara barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan
ke-7, Inggris(8), Australia(9), dan Amerika Serikat(25).
Sekali lagi, penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu
juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika Masyarakat atau Negara Muslim
korup dan represif, apakah kesalahan itu lebih disebabkan oleh perilaku
masyarakatnya, ataukah pada sistem pemerintahannya? Atau akibat sistem dan kultur
pendidikan Islam yang salah?. Namun, satu hal yang pasti, penelitian ini
menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi dan politik negara anggota OKI justru
berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibandingkan negara-negara non Muslim yang
perilakunya lebih Islami.
Semarak dakwah dan Ritual
Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan semarak dakwah dan
mendasar: mengapa ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku
sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan
di negara-negara sekuler?
Tampaknya keberagamaan kita lebih senang di level dan smarak ritual untuk
mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau
seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam - syahadat, shalat, zakat,
puasa dan haji- dia sudah merasa sempurna dan hebatlah keislamannya. Padahal misi
Rasulullah itu datang untuk membangun Peradaban yang memiliki tiga pilar utama:
Keilmuan, Ketakwaan dan Akhlak Mulia atau Integritas. hal yang terakhir inilah,
menurut Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.
Sekali lagi, kita boleh setuju atau menolak hasil penelitian ini dengan cara
melakukan penelitian tandingan. Jadi jika ada pertanyaan: How Islamic are Islamic
Parties?, menarik juga dilakukan penelitiandengan terlebih dahulu membuat
indikator atau standar berdasarkan Al Quran dan Hadis. lalu diproyeksikan juga
untuk menakar keberislaman perilaku partai-partai yang mengusung simbol dan
semangat agama dalam perilaku sosialnya.
*Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA ZULHIJJAH
“Demi Fajar! Dan malam yang sepuluh! Dan yang genap dan yang ganjil!” [89:1-3]Allah SWT telah memberkati Jumat sebagai hari yang terbaik dalam seminggu, Ramadan sebagai bulan terbaik dalam setahun, dan 10 hari terakhirnya sebagai hari-hari terbaik di bulan Ramadan. Serupa dengan hal itu Dia juga telah menyatakan sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah sebagai masa yang penuh dengan kebaikan.
Untuk membedakannya, Allah SWT memanifestasikan kesucian rentang waktu “Sepuluh Malam” ini dalam Alquran. Menurut sejumlah ulama dalam Islam, ‘Sepuluh Malam’ merujuk pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan atau sepuluh hari pertama di bulan Muharam atau lima hari ganjil terakhir di bulan Ramadan, yang juga termasuk, Malam Kemuliaan, Kedua Malam Idulfitri dan Iduladha, Mi’raj, ‘Arafah, dan Malam Pertengahan (Nisfu) Syakban. Tetapi sebagian besar ulama itu percaya bahwa ’Sepuluh Malam’ itu merujuk pada 10 malam pertama di bulan Zulhijah. Alasannya karena haji dilaksanakan selama kurun waktu tersebut.
Ditambah lagi dengan adanya hari ‘Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Zulhijah. Sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah adalah hari-hari yang terpenting dalam setahun. Dan hari ‘Arafah adalah hari yang terpenting di antara yang sepuluh itu. Oleh sebab itu ia merupakan hari terpenting dalam setahun. Allah SWT memberikan kemuliaan terbesar kepada hamba-Nya dengan jalan mengampuni mereka. Kebahagiaan di Akhirat sangat dipengaruhi oleh pencarian terhadap ampunan Allah SWT, hari ‘Arafah adalah hari pengampunan. Rasulullah SAW bersabda bahwa Muslim yang berpuasa di hari ‘Arafah akan diampuni dosa-dosanya sepanjang tahun.
Selain itu masih ada lagi hari yang baik di bulan ini, yaitu Hari Raya Kurban atau Iduladha yang jatuh pada 10 Zulhijah. Ini adalah hari di mana Nabi Ibrahim AS diuji untuk mengorbankan putra yang paling dicintainya, Nabi Ismail AS sehingga setiap Muslim dianjurkan untuk memperingati peristiwa ini dan mengambil hikmahnya.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa sepuluh hari pertama ini adalah waktu yang mustajab untuk berdoa, memohon, salat dan ibadah lainnya. Di laporkan dari Abu Hurayrah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari lain yang lebih disukai Allah SWT daripada 10 hari pertama di bulan Zulhijah.” Puasa di siang harinya adalah sama dengan puasa setahun penuh, dan ibadah di malam harinya setara dengan ibadah di malam Laylat al-Qadar. (Tirmidzi dan Ibnu Majah).
‘Abd Allah ibn Mas’ud RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari lain dalam setahun di mana suatu perbuatan baik mempunyai nilai yang sangat tinggi dibandingkan dengan hari yang sepuluh (yakni 10 hari pertama di bulan Zulhijah).” Seseorang bertanya, “Bagaimana dengan berjihad di jalan Allah SWT?” Beliau menjawab, “Bahkan dibandingkan jihad di jalan Allah SWT.” Haytami berkata, “Tabarani meriwayatkan hal itu dalam al-Mu’jam al-Kabir dan semua perawi hadis dalam rantai transmisinya adalah perawi yang sahih.
Juga diriwayatkan oleh Ibn Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah SWT selain di 10 hari pertama bulan Zulhijah. Jadi dalam periode ini perbanyaklah tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa Ilaha Ilallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar).” (Tabarani)
Hazrat Abu Qatadah al-Ansari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa di hari ‘Arafah (9 Zulhijah). Beliau bersabda, “Puasa itu bisa menebus dosa-dosa kecil di tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang.” (Muslim) Puasa ini adalah Mustahab, tidak berdosa jika tidak melakukannya.
Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tetap terjaga dan melakukan ibadah di malam Idulfitri dan Iduladha, hatinya tidak akan mati ketika hati orang-orang yang lain mati.” (Targhiib)
Hazrat Muadz bin Jabal RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jannah (surga) adalah wajib bagi siapa yang tetap terjaga dengan niat beribadah pada malam 8, 9, dan 10 Zulhijah, malam Idulfitri dan malam Nisfu Syakban.” (Targhiib)
Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang berpuasa pada tanggal 1 Zulhijah seolah-olah ia ikut dalam Jihad di jalan Allah SWT selama 2.000 tahun tanpa istirahat sedikit pun. Bagi yang berpuasa di hari kedua seolah-olah ia telah beribadah kepada Allah SWT selama 2.000 tahun dan puasa di hari ketiga seolah-olah ia telah memerdekakan 3.000 budak di masa Nabi Ismail AS. Untuk puasa di hari keempat ia menerima ganjaran sama dengan 400 tahun ibadah. Untuk hari kelima ganjarannya setara dengan memberikan pakaian kepada 5.000 orang yang telanjang, puasa di hari ke-6 setara dengan ganjaran bagi 6.000 syuhada dan puasa di hari ketujuh, semua pintu di ketujuh neraka menjadi haram baginya dan untuk puasa di hari kedelapan, seluruh pintu surga akan dibuka baginya.” Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa puasa pada hari pertama Zulhijah bagaikan telah mengkhatamkan Alquran sebanyak 36.000 kali. Catatan: puasa-puasa tersebut adalah Mustahab, tidak ada keharusan untuk melakukannya. Selain itu kita juga dilarang berpuasa pada hari Tasyrik (hari ke-11, 12, dan 13 bulan Zulhijah) sebagaimana `Aisyah RA dan Ibnu `Umar RA meriwayatkan bahwa tidak seorang pun diperbolehkan berpuasa pada hari Tasyrik, kecuali mereka yang tidak mampu berkurban.
sumber : bayuaji
Khutbah Idul Fitri 1432 H: Ramadhan, Membangun Keshalihan Pribadi Menuju Keshalihan Sosial
oleh : Syarifuddin Mustafa, MA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allahu Akbar kabira wal hamdulillah katsira wasubhanallahi bukratan wa ashila
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah menciptakan langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya..
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan manusia sebaik-baik makhluk
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan petunjuk, hidayah dan rahmat kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, kesempatan dan kekuatan kepada hamba-hamba yang dikehendaki hingga pada detik ini, di hari yang fitri dan mulia dapat berkumpul di tempat yang mulia ini.
Ilustrasi thenotesonmyblog.blogspot.com)
dakwatuna.com -Sungguh hanya pujian dan rasa syukur yang tidak terhingga hanya untuk Allah semata, berkat rahmat dan kasih sayang-Nya lah kita dapat melewati hari-hari, malam-malam dan waktu-waktu yang utama. Menunaikan amaliyah dan ibadah di bulan yang mulia, bahkan dengan penuh harap, kita dapat meraih malam Al-Qadar yang kemuliaannya sama dengan ibadah seribu bulan lamanya.
Rasanya berat meninggalkan bulan Ramadhan, ingin rasanya kita terus berada di bulan nan indah dan penuh berkah ini, namun waktu tetaplah waktu yang pasti berlalu, kini saatnya kita dan seluruh umat Islam di seluruh dunia merayakan kemenangannya. Gema takbir, tahlil dan tahmid pun berkumandang dimana-mana, umat Islam di seluruh jagad raya ini, bersatu padu melantunkan irama membesarkan Allah, memuji dan mensucikan-Nya, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan. Mengungkapkan syukur atas hidayah dan inayah Allah yang begitu besar karena telah berhasil mengikuti rentetan ibadah pada bulan Ramadhan sebagai jaminan untuk mendapatkan ganjaran dan ampunan Allah SWT dan kembali kepada fitrah. Allahumma lakalhamdu kama yanbagi lijalali wajhikal karimi wa azhimi sultanika.
Sesuai dengan perintah Allah SWT
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kalian sempurnakan bilangannya, mengagungkan Allah SWT atas petunjuk Allah dan hidayah-Nya agar setelah itu kalian menjadi orang yang bersyukur”. (Al-Baqarah:185)
Inilah saatnya kita ungkapkan rasa syukur yang mendalam kepada Allah; syukur qalbi dengan mengakui nikmat-nikmat Allah, syukur qauli dengan melantunkan tahmid, tasbih dan takbir kepada Allah, serta syukur amali dengan menjadikan segala nikmatnya sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya, menunaikan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, sehingga kelak dengan syukur tersebut Allah berkenan menambah dan menambah terus nikmat-Nya kepada kita dan menjadikan kita menjadi orang yang bertaqwa.
Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamdu
Ma a’syiral muslimin Rahimakumullah
Jamaah shalat Idul fitri yang dirahmati Allah SWT
Ramadhan boleh saja berlalu namun kesan dan pesannya harus tetap melekat dalam relung hati, nafas, gerak dan hidup setiap muslim. Bahwa Allah SWT tidak semata menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang di dalamnya ada kewajiban puasa, shalat sunnah tarawih dan ibadah-ibadahnya lainnya. Namun juga ingin memberikan pelajaran berharga kepada hamba-hamba-Nya akan perasaan bahwa mereka sangat memerlukan dan membutuhkan ibadah, bukan sekedar taklif dan beban belaka. Manusia diperintah beribadah bukan untuk kemaslahatan Allah SWT namun untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Sejatinya amal ibadah yang kita tunaikan –baik yang wajib atau yang sunnah- tidak akan mampu menambah singgasana Allah, begitu pula sebaliknya, jika kita semua tidak mau tunduk dan tidak mau beribadah kepada Allah SWT tidak akan mampu mengurangi apalagi menjatuhkan singgasana Allah SWT.
Sebagaimana dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Abu Dzar Al-Ghifari, bahwa Nabi saw bersabda, Allah SWT berfirman:
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً…. يَا عِبَادِي إِنّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ. ثُمّ أُوَفّيكُمْ إِيّاهَا. فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللّهَ. وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنّ إِلاّ نَفْسَهُ
“Wahai hamba-Ku, sekiranya seluruh manusia dan jin dari awal hingga akhir bertaqwa seperti ketakwaan orang yang paling bertaqwa di antara kalian, maka semua itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-Ku, sekiranya seluruh manusia dan jin dari awal hingga akhir durhaka seperti durhakanya orang yang paling durhaka di antara kalian, maka hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun…. Wahai hamba-Ku, semua itu hanyalah amal kalian yang Aku pelihara untuk kalian, kemudian Aku kembalikan kepada kalian. Barangsiapa yang menerima balasan yang baik, maka hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang menerima selain itu, hendaklah ia tidak menyalahkan selain dirinya sendiri.”
Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamdu
Ma a’syiral muslimin Rahimakumullah
Jamaah shalat Idul fitri yang dirahmati Allah SWT
Selain itu bulan Ramadhan merupakan sarana pendidikan dan pembinaan yang luhur dan komprehensif; baik untuk pembinaan ruhiyah (spiritual), jasadiyah (jasmani), ijtima’iyah (sosial), khuluqiyah (akhlaq), hadloriyah (peradaban) serta jihadiyah pada diri umat Islam.
Ibarat lembaga pendidikan, yang di dalamnya para pelajar digembleng, dididik dan dibina secara ketat, sehingga kelak setelah keluar dari lembaga tersebut menjadi pelajar mumpuni, berprestasi dan unggul serta berdaya guna. Ketika mereka dididik dengan materi yang baik, ditempa dengan pembinaan yang maksimal dan kurikulum yang jelas, maka kelak mereka menjadi sosok yang bukan saja memberikan maslahat untuk dirinya sendiri namun juga bermanfaat untuk keluarga, lingkungan, masyarakat dan negaranya.
Begitu pula dengan bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat kewajiban, sunnah tarawih, tilawatil Qur’an dan amaliyah lainnya, merupakan sarana penempaan dan pendidikan yang memiliki kurikulum langsung dari yang Maha Mulia, sehingga kelak ketika keluar dari madrasah Ramadhan menjadi sosok (pribadi) shalih dan muslih.
Seperti dalam kaidah Arab disebutkan
الصَّلاَحُ قَبْلَ الإِصْلاَحِ
Perbaiki diri sebelum perbaikan kepada yang lain
Atau menjadi pribadi
الصَّالِحُ وَالْمُصْلِح
baik secara individu dan sosial
Lahir sosok pribadi muslim yang mumpuni, yang memiliki syakhshiyah islamiyah mutakamilah mutawazinah (sosok pribadi Islami yang komprehensif dan seimbang) tidak hanya berjiwa bersih, berbadan sehat dan berakhlaq mulia, namun juga memberikan kebaikan kepada dirinya dan perbaikan kepada lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
Demikianlah cara Allah memperbaiki suatu negeri, bangsa atau kaum, bukan Zat-Nya yang langsung mengubah negeri, bangsa atau kaum, namun dengan cara memberikan sarana perbaikan jiwa-jiwa secara personal terlebih dahulu. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (Ar-Ra’ad:11)
Bahwa untuk mencapai tingkat kualitas yang mulia (At-taqwa) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, namun membutuhkan proses yang harus ditempuh oleh setiap mukmin, selain harus melandasi dengan keimanan, namun juga menempuh proses berat sehingga mampu memberikan output yang baik dan mulia. Begitulah ketika Allah menginginkan derajat taqwa yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya; landasannya iman, prosesnya ibadah puasa dan hasilnya taqwa.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Al-Baqarah:183)
Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamdu
Ma a’syiral muslimin Rahimakumullah
Jamaah shalat Idul fitri yang dirahmati Allah SWT
Kesalehan Pribadi
Hingga saat ini, kita belum sadar pada dasarnya kita masih berjalan pincang dengan ketakwaan dan keshalihan kita. Di satu sisi kita memiliki keshalihan personal yang tinggi pada Allah SWT sementara di sisi lain hak-hak sosial dalam diri kita masih sering kita acuhkan. Atau sebaliknya, keshalihan sosial berada pada prioritas tertinggi dalam kewajiban kita, sementara penyembahan terhadap Yang Maha Agung tidak kita laksanakan.
Padahal agama, pada dasarnya, diwahyukan untuk memberikan petunjuk dan sebagai way of life bagi manusia. Petunjuk tersebut tidak berlaku hanya untuk diri sendiri dalam konteks kesalehan personal, akan tetapi sebaliknya berlaku secara makro pada tataran kesalehan sosial dan personal. Jika kita tilik secara bijak antara kesalehan personal dengan kesalehan sosial, keduanya berjalan linier dan saling menyatu membentuk kehidupan yang seimbang bagi hubungan manusia baik secara vertical maupun horizontal.
Contohnya adalah bahwa fakta sosial yang kerap terjadi di lingkungan kita. Di antara kita banyak sekali yang telah menunaikan ibadah haji lebih dari satu kali karena memiliki kemampuan ekonomi yang lebih, akan tetapi ironinya kita masih belum memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Padahal, ibadah haji dan ibadah mahdhah lainnya pada dasarnya menjunjung tinggi kesadaran dan empati sosial. Seperti muamalat (hubungan sosial), munakahat (hukum keluarga), jinayat (pidana), Qadha (peradilan), dan imamah atau siyasah (politik).
Prinsip-prinsip beragama pada dasarnya mengarahkan pandangan pada kesalehan sosial dalam arti yang luas. Contoh sederhana yang dapat kita perhatikan adalah, ajaran Islam sangat menganjurkan untuk melaksanakan shalat berjamaah dibandingkan dengan shalat sendirian, 1 berbanding 27. Mengapa hal itu bisa terjadi? Dengan shalat berjamaah akan terbangun hubungan sosial yang harmonis, terciptanya solidaritas yang kuat, empati satu sama lain dan aspek-aspek sosial lainnya.
Ibadah puasa, juga mengajarkan kepada kita untuk memiliki sikap tenggang rasa, peduli, dan solidaritas tinggi yang merupakan tatanan dari kehidupan social bukan keshalihan pribadi belaka.
Sebaliknya agama obyektif lebih bermakna akhlakul karimah, yakni kontekstualisasi sikap dan perilaku kita pada tataran sosial dengan menyandarkan perilaku tersebut pada ajaran agama, salah satu contohnya adalah kejujuran. Tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan pemeluknya untuk memiliki sikap tidak jujur. Ini merupakan bukti kontekstualisasi ajaran agama pada aspek perilaku manusia.
Agama subjektif dan obyektif sama halnya dengan konsep iman dan amal. Iman bersifat personal tetapi amal merupakan aplikasi iman dalam kehidupan sosial. Iman menjadi landasan perilaku baik dalam konteks hubungan vertikal (hablum minallah) maupun hubungan horizontal (hablum minannas wa hablum minal ’alam). Sementara yang dimaksud dengan agama simbolik adalah agama nisbi yang hadir karena tuntutan dari agama subjektif dan obyektif. Diibaratkan jika agama subjektif dan obyektif adalah ruh dan jiwa, maka agama simbolik adalah raganya
Kelihatannya terlalu idealis untuk menyeimbangkan antara kesalehan personal dan sosial. Akan tetapi kelihatannya tidak bijak jika kita tidak mencobanya dan menerapkannya dalam kehidupan manusia. Agama akan menjadi kering dengan hanya menitikberatkan pada pemahaman yang bersifat personal tanpa menghadirkan nilai-nilai sosial di dalamnya. Karena pada dasarnya agama memiliki peranan yang sangat vital dalam membina umat manusia. Agama tidak sekedar memiliki fungsi sebagai aturan kehidupan bagi manusia, sebaliknya agama memegang peranan yang bersifat universal.
Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamdu
Ma a’syiral muslimin Rahimakumullah
Jamaah shalat Idul fitri yang dirahmati Allah SWT
Ciri berkepribadian shalih adalah kejujuran
Ibadah puasa identik dengan pelatihan diri untuk bersikap jujur, karena puasa bukanlah ibadah raga namun ia merupakan ibadah hati, hanya mukmin yang puasa dan Allah sajalah yang tahu bahwa dirinya sedang puasa.
Kejujuran adalah tanda bukti keimanan. Orang mukmin pasti jujur. Kalau tidak jujur, keimanannya sedang terserang penyakit kemunafikan. Pernah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?” Rasul SAW menjawab: “Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi: “Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?” Rasul menjawab: “Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” (Imam Malik dalam kitab al Muwaththo’)
Dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda: “Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga.” (Ahmad, Muslim, at-Turmuzi, Ibnu Hibban)
Kejujuranlah yang menjadikan Ka’b bin Malik mendapat ampunan langsung dari langit sebagaimana Allah jelaskan dalam surah at-Taubah dan akhirnya kita pun diperintah oleh Allah untuk mengikuti jejak mereka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah:119)
Kejujuranlah yang menyelamatkan bahtera kebahagiaan keluarga, masyarakat dan negara dan kejujuran pulalah yang menyelamatkan seorang Muslim dari siksa api neraka di kemudian hari.
Kejujuran adalah tiang agama, sendi akhlaq, dan pokok kemanusiaan manusia. Tanpa kejujuran, agama tidak lengkap, akhlaq tidak sempurna, dan seorang manusia tidak sempurna menjadi manusia. Di sinilah urgensinya kejujuran bagi kehidupan.
Rasulullah pernah bersabda, “Tetap berpegang eratlah pada kejujuran. Walau kamu seakan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan.” (Abu Dunya)
Ada tiga tingkatan kejujuran:
- Kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realitas. (lihat ash-Shaff : 2 dan al-Ahzab: 70).
- Kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
- Kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tingkat tinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah SWT.
Seorang mukmin tidak cukup hanya jujur dalam ucapan dan perbuatan, tapi harus jujur dalam niat sehingga semua ucapannya, perbuatannya, kebijakannya, dan keputusannya harus didasarkan atas tujuan mencari mardlotillah.
Kejujuran inilah yang mendorong Umar bin Khattab memiliki tanggung jawab luar biasa dalam memerintah khilafah Islamiyah sehingga pernah berkata: “Seandainya ada seekor keledai terperosok di Baghdad (padahal beliau berada di Madinah), pasti Umar akan ditanya kelak: “Mengapa tidak kau ratakan jalan untuknya?”
Bangsa yang tak henti-hentinya diterpa musibah dan krisis sangat membutuhkan manusia-manusia jujur, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun niat.
Sungguh bangsa Indonesia, umat Islam secara khusus sangat membutuhkan pribadi-pribadi yang jujur, baik sebagai rakyat maupun pemimpin, seorang pegawai maupun direktur, pedagang maupun pembeli, suami dan istri, ayah dan anak, keluarga, lingkungan dan dalam berbagai lini kehidupan lainnya.
Bahwa dengan kejujuranlah, hidup suatu bangsa akan menjadi tenteram, nyaman dan sejahtera, bahkan akan kokoh dan tegak berdiri sehingga jauh dari tipu daya dan curang, karena itulah Rasulullah saw mengingatkan: “Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga.”
Seorang pemimpin suatu negeri tentunya sangat dibutuhkan sikap kejujuran diri, sehingga dengan demikian dapat memberikan keadilan, kenyamanan dan ketenteraman hidup rakyatnya. Dan kejujuran bukanlah sekedar ucapan pemanis lidah, hanya sebuah keluhan belaka, dengan mengatakan di hadapan orang banyak “jujur saya katakan”, namun ia merupakan praktek nyata yang betul-betul kelihatan sehingga dapat dirasakan oleh orang lainnya.
Pejabat yang jujur, adalah dambaan umat, sehingga dengannya dapat memberikan kemaslahatan besar untuk rakyatnya, sekalipun dirundung masalah jujurlah, berikan keterangan sebenarnya, jangan disembunyikan.
Hakim yang jujur, adalah harapan semua pihak, sehingga dengan dapat mengeluarkan hokum yang adil, tidak memihak kepada yang kuat atau punya uang. Bahkan nabi saw dengan keras bahwa hakim ada tiga; dua di neraka dan satu di surga.
Kita pun sebagai rakyat harus jujur, terutama dalam memilih seorang pemimpin masih banyak yang mudah dibuai oleh rayuan kata-kata dan harta yang sedikit, memilih pemimpin yang tidak kepribadiannya.
Akhirnya marilah kita mengaca diri, bahwa kita semua memerlukan pembenahan secara personal dan social, dan marilah kita jadikan bulan Ramadhan yang telah kita lalui sebagai titik awal perbaikan diri menuju keshalihan diri dan social, membangun kehidupan yang baik menuju keshalihan social sehingga berbuah pada “baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur” (negeri yang makmur, dan dinaungi ampunan Allah SWT)
Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamdu
Ma a’syiral muslimin Rahimakumullah
Jamaah shalat Idul fitri yang dirahmati Allah SWT
Marilah bersama-sama kita tengadahkan kedua tangan kita setinggi-tingginya, hadir jiwa dan raga kita kepada Allah, heningkan ruh dan pikiran kepada Maha Mulia, memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Semoga kita semua yang hadir di sini dan umat Islam lainnya, senantiasa dinaungi rahmat dan maghfirah Allah.
Ya Allah, hari ini kami hadir di sini memenuhi panggilan-Mu menunaikan shalat sunnah, setelah selama sebulan penuh kami menunaikan kewajiban dan amaliyah di bulan Ramadhan
Ya Allah, masih banyak kewajiban dan ibadah yang belum kami tunaikan, oleh karena itu, kami memohon ampunan-Mu dan rahmat-Mu.
Ya Allah, jadikanlah ibadah puasa kami sebagai sarana penghapus dosa dan kesalahan kami, jadikanlah ia sebagai sarana perbaikan diri kami, keluarga dan umat kami
Berikanlah kekuatan kepada kami untuk senantiasa berbuat baik, bersikap jujur dalam berbagai kehidupan kami.
Anugerahkanlah kepada kami, jiwa-jiwa yang jujur; pemimpin yang jujur, pejabat yang jujur, suami yang jujur, istri yang jujur, anak yang jujur, guru yang jujur, siswa yang jujur, pedagang yang jujur dan pembeli jujur.
Ya Allah, terimalah ibadah kami, shalat kami, ruku’ dan sujud kami, puasa kami dan doa-doa kami.
sumber :dakwatuna
Khutbah Idul Fitri 1432 H: Puasa Ramadhan Menghadirkan Generasi Yang Peduli dan Rabbaaniy, bukan Ramadhaniy
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر.
الله أكبر عدد ما ذكر الله ذاكر وكبر.
الله أكبر عدد ما صام صائم وأفطر.
الله أكبر عدد ما فرح طائع واستبشر.
الله أكبر عدد ما استرجع مذنب وتذكر.
الله اكبر عدد ما تاب تائب واستغفر.
الله أكبر عدد ما تلا قارئ للقرآن وتدبر.
الله أكبر عدد ما فاح ذكر الله بالألسن وتعطر.
سبحان الله والحمد لله, و لا إله إلا الله الله أكبر.
الحمد لله الكريم المنان, المتفضل بالإحسان على الدوام, شرع الشرائع وأحكم الأحكام, أحمده من علينا بمنن لم يعطها قبلنا من الخلائق والأقوام, فكتابنا القرآن خير كتبه وأحسنها تفصيلا وإحكام, ونبينا سيد ولد آدم, ورسول الثقلين الأنس والجان, أتم علينا النعمة بالصيام وأباح لنا الفطر اليوم إيذاننا بعيدنا أهل الإسلام, وأصلي وأسلم على النبي المصطفى والرسول المجتبى سيد ولد عدنان, من صلى وصام وأحسن وقام صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أولي النهى والإقدام .
أما بعد فأوصيكم أيها الناس بتقوى الله فإن من اتقى الله وقاه, ومن توكل عليه كفاه.
اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Segala Puji hanya milik Allah
dakwatuna.com - Ketika pada hari ini sebagian besar umat Islam di berbagai pelosok dunia, kembali mengumandangkan takbir dan tahmidmemuji kebesaran dan karunia Allah SWT, sesuatu yang kembali menyemangati umat Islam untuk sadar akan jati diri mereka sebagai hamba Allah yang utama, yang mempunyai komunitas yang sangat besar di dunia, dan berkemampuan untuk melaksanakan syariat Allah dan sunnah Rasulullah SAW selama satu bulan penuh, berpuasa di siang hari dan bershalat tarawih di malam hari, sudah sangat selayaknya bila yang hadir dalam hati nurani, suluk/prilaku, apalagi pengucapan dari kita semuanya adalah syukur yang tiada terhingga atas karunia Allah SWT yang sangat besar itu. Apalagi kita juga sangat menyadari bahwa karunia-karunia itu di satu pihak masih belum dirasakan maksimal oleh sebagian saudara Muslim kita, terbukti masih banyak orang yang mengaku beragama Islam tapi di siang hari kemudian masih secara terbuka tidak melaksanakan puasa, atau berpuasa tapi prilakunya tetap menunjukkan jati diri tidak berpuasa, sementara di pihak yang lain kita meyakini bahwa karunia-karunia itu sungguh sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas iman, menjaga kontinuitas ibadah, baik yang berkaitan dengan memakmurkan masjid maupun juga pembacaan Al-Qur’an, serta dampak-dampak positif lainnya dalam beragam kehidupan seperti kesehatan, sosial dan keamanan, sekali lagi kita sangat berharap bahwa karunia ini berkelanjutan, karena kita sangat yakin apa yang Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7)
“Dan ingatlah tatkala Rabbmu memaklumkan: “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (bi’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)
اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Hadirin Sidang Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Bulan Ramadhan yang bertepatan dengan bulan Agustus tahun ini memang istimewa, apalagi bila dikaitkan dengan kehidupan sebagai bangsa Indonesia, karena ia melanjutkan tradisi-tradisi kemenangan yang begitu fenomenal dalam sejarah umat Islam seperti kemenangan pada peristiwa Badr Kubra yang disebut Yaumul furqaan, Fath Makkah, Fath Andalus (masuknya Islam ke Andalusia), dikalahkannya agresi Mongol oleh Saefuddin Qutuz, dan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, negara yang merupakan negara Muslim terbesar di dunia, dari penjajahan asing, baik Belanda maupun Jepang, yang dilaksanakan tanggal 9 Ramadhan tahun 1364 H yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945. Semoga karenanya kemerdekaan ini juga menghadirkan keberkahan bagi Bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa dunia, sebagaimana keberkahan Bulan Ramadhan yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagai bulan berkah.
أتاكم شهر رمضان شهر مبارك فرض الله عليكم صيامه تفتح فيه أبواب الجنة ، وتغلق فيها أبواب الجحيم…
“Bulan Ramadhan telah menghampiri kalian yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa, di dalamnya pintu-pintu surga dibukakan, pintu-pintu neraka jahim ditutup…” (HR. An-Nasaai)
Betapa kemerdekaan adalah karunia yang besar dan nikmat yang harus disyukuri. Mudah kita bayangkan, bila kita memperhatikan nasib saudara-saudara kita kaum Muslimin di berbagai belahan dunia yang sampai hari ini masih harus berjuang dengan segala luka dan dukanya, seperti saudara-saudara kita di Palestina, di Kosovo dan lain-lainnya, semoga Allah selalu menguatkan mereka dan menyatu padukan langkah perjuangan mereka serta membukakan mata hati dunia untuk mengakui kemerdekaan mereka. Ada juga negara yang sudah lama merdeka, tetapi gagal untuk mengisi dan menjaga kemerdekaannya, karena konflik destruktif berkepanjangan seperti Somalia dan Libya. Alhamdulillah, Indonesia sudah merdeka dan secara prinsip tetap dapat menjaga kemerdekaannya. Terasa istimewa juga karena 17 Agustus kali ini bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan hari diperingatinya Nuzulul Qur’an, suatu peristiwa langka yang mungkin hanya berbarengan satu kali dalam satu abad, maka dalam konteks kita ummat Islam yang ingin mengisi hari-hari bulan Ramadhan dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW, yang salah satu di antaranya adalah Rasulullah SAW di Bulan Ramadhan ini memperbanyak tilawah dan tadabbur Al-Qur’an, tentulah kita sangat berharap bahwa kemerdekaan yang diyakini oleh para Founding Fathers negeri ini sebagai sesuatu yang terjadi atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa sebagaimana tercantum dalam alinie ke tiga Pembukaan UUD Republik Indonesia Tahun 1945, tentulah sudah sangat semestinya bila umat Islam pemilik sah negeri ini yang juga sudah sangat terlibat dalam menghadirkan dan menjaga proklamasi kemerdekaan NKRI, untuk dapat mengisi kemerdekaan kita dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW, sesuatu yang mestinya mudah kita laksanakan karena di satu pihak ummat Islam telah menginternalisasi nilai-nilai kebajikan Al-Qur’an dan As-sunnah itu selama satu bulan penuh, dan terbukti tiada satu pun nilai Islam yang merugikan kepentingan kehidupan keummatan maupun kebangsaan, tidak satu pun tindakan terorisme, korupsi, perusakan lingkungan, dekadensi moral, pengabaian kaum dhuafa yang dibenarkan oleh Al-Qur’an maupun As-sunnah, sebaliknya nilai-nilai Al-Qur’an dan As-sunnah yang telah mereka internalisasikan seperti: mementingkan realisasi akhlakul karimah, silaturahim, peduli dengan sesama terutama para dhuafa dan masaakin serta para yatim, taat kepada ajaran Al-Qur’an dan As-sunnah yang mengharamkan prilaku-prilaku negatif tersebut di atas, berorientasi untuk mewujudkan manusia yang aktif, produktif dan konstruktif berbasiskan nilai- nilai takwa, nilai-nilai yang justru sangat diperlukan dalam rangka menguatkan pilar-pilar kehidupan kita sebagai ummat dan bangsa yang merdeka, berdaulat dan beradab.
Bulan Ramadhan juga telah mengajarkan kepada kita tentang pembiasaan dari berbuat dan berperilaku baik, satu bulan lamanya kita mengamalkan beragam sifat dan sikap positif, yang terakhir-terakhir ini semakin dirasakan keharusannya untuk dihadirkan, saat banyak pihak masih terus terjadinya korupsi yang merefleksikan adanya ketidakjujuran dan kelemahan dalam penegakan hukum. Dengan melaksanakan ibadah shiyam selama satu bulan Ramadhan, mengajarkan kepada kita bahwa ternyata berlaku juga dan keberanian serta ketegasan dalam penegakan hukum dan melaksanakan syariat Allah dan Sunnah Rasul-Nya ternyata bisa kita lakukan padahal untuk melaksanakan ibadah shiyam dan qiyam itu, kita harus merubah secara revolusioner kebiasaan hidup kita, yang selama ini siang hari kita menyantap makanan dan minuman dan malam hari kita beristirahat, kita pun demi melaksanakan hukum Allah dan Rasul-Nya, telah berani dan tegas dan jujur merubah siang kita tidak untuk makan dan minum, dan malam kita tidak untuk istirahat melainkan untuk beragam aktivitas seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, Qiyamullail, sahur dan seterusnya.
Satu bulan lamanya kita telah ditraining oleh Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan ibadah shiyam dan qiyam. Dan bila kita lulus, dan seharusnya memang demikian, sebab tentu kita tidak ingin menjadi kelompok yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasa, padahal dia sudah berlapar-lapar dan berdahaga-dahaga. Sekali lagi, semoga kita lulus mengikuti training Allah dan Rasul-Nya tersebut, sehingga dengan demikian kita telah membiasakan diri untuk berbuat dan berlaku yang baik, yaitu bersifat dan berlaku jujur dan berani menegakkan hukum, bahkan berani untuk peduli pada dhuafa, fuaqaara dan masaakiin, dengan silaturahim, infak, zakat fitrah dan zakat mal, sebab untuk bisa berbuat dan berlaku positif pun perlu pembiasaan seperti yang dulu pernah diingatkan oleh sahabat Rasulullah SAW yang terkemuka Abdullah bin Mas’ud RA:
تعودوا الخير, فإن الخير بالعادة
“Biasakannya berbuat baik, sebab untuk dapat kontinu berbuat baik diperlukan pembiasaan”
Subhanallaah, bila sudah demikian, tentulah wajar kita umat Islam Indonesia, akan kembali melakukan perah sejarah yang sangat penting untuk menyalurkan api harapan dan semangat mengisi kehidupan dan kemerdekaan agar merdeka dari kegelapan korupsi, ketidakpedulian, kemiskinan dan kezaliman-kezaliman yang lainnya, karena memang begitulah risalah hidup Muslim.
يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Dia-lah (Allah) yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya…” (Al-Baqarah: 257)
اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Hadirin Sidang Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Bila demikian halnya, maka sudah sangat semestinya bila ummat Islam pun mengupayakan dengan sungguh-sungguh agar beragam capaian keunggulan yang telah mereka internalisasikan dengan ibadah selama satu bulan Ramadhan itu dapat terus dilanjutkan pada bulan-bulan sesudah bulan Ramadhan, agar apa yang mereka lakukan itu bisa menjadi modal besar dan bisa dikembangkan, selain dari bahwa salah satu tujuan dari disyariatkannya ibadah puasa di Bulan Ramadhan yaitu untuk merealisasikan nilai-nilai takwa yang diungkapkan dengan ungkapan la’allakum tattaquun, ungkapan yang mempergunakan fiil mudhari kata kerja yang bersifat jamak untuk hari ini maupun yang akan datang, untuk sesuatu yang bersifat inovatif dan berkelanjutan, juga karena bangsa Indonesia sungguh sangat akan diuntungkan bila nilai-nilai tersebut memang dapat dilanjutkan pada bulan-bulan di luar Ramadhan, apalagi bila dikaitkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ , dan sejak ayat pertama dari ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Muhammad SAW telah memberikan sebuah panduan kehidupan yang sangat gamblang dengan adanya keharusan untuk memahami dan mengisi kehidupan dengan nilai-nilai yang islami, yaitu ketika cara pandang yang sekularistik sejak jadi awal telah dikoreksi oleh wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT, yaitu ketika Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan untuk iqra saja atau bismi rabbika saja tanpa dikaitkan secara langsung satu dengan keduanya, sebab bila memang keduanya dipisahkan akan menghadirkan cara pandang dan prilaku kehidupan yang sekularistik yang akan menghadirkan anomali dalam kehidupan seperti melakukan puasa tapi prilakunya tetap korupsi dll. Itulah karenanya Allah pun menggabungkan keduanya sekaligus dengan ungkapan perintahnya yang sangat jelas اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ dan kemudian diulangi lagi dengan ungkapannya اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ.
Karenanya dalam konteks dan teks Al-Qur’an, prilaku tersebut bukan sekadar informatif, yang boleh diimani atau diingkari, tetapi bersifat imperatif, perintah, yang harus dilaksanakan, seperti kita melaksanakan shalat, zakat dan puasa, karena adanya perintah untuk itu semua.
Hal ini penting untuk disegarkan kembali agar kita nyaman untuk melanjutkan capaian-capaian positif ibadah kita selama satu bulan Ramadhan untuk bisa dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya setelah bulan Ramadhan, dan sesungguhnya dengan pendekatan tersebut di atas maka kita semakin yakin bahwa Allah yang kita sembah selama bulan Ramadhan itu juga Allah yang kita sembah dan mestinya ditaati di bulan-bulan sesudah Ramadhan, Rasulullah yang sunnahnya yang begitu semangat kita mengikutinya, itu jugalah tauladan kita di bulan-bulan setelah bulan Ramadhan, apalagi Al-Qur’an panduan kehidupan kita yang kita baca selama bulan Ramadhan sesungguhnya juga adalah Al-Qur’an yang sama yang dibaca dan diamalkan oleh para Sahabat sehingga menghadirkan masyarakat yang khair ummah yang rahmatan lilaalimin, yang sesungguhnya juga adalah sama dengan yang kita miliki dan selalu juga kita baca di bulan-bulan setelah bulan Ramadhan. Sehingga dengan demikian maka sangat diharapkan bahwa dengan hadirnya bulan Ramadhan itu akidah semakin kokoh dan kuat sehingga hadirlah generasi yang selalu peduli untuk menghadirkan kontribusi yang bermanfaat bagi ummat serta solusi yang inovatif bagi beragam problema yang sudah akut di tengah masyarakat, baik problem masyarakat, moral, sosial, ekonomi, karena yang akan hadir adalah generasi yang rabbani, yang selalu bisa merealisasikan aktivitas-aktivitas takwanya di sepanjang bulan sesudah bulan Ramadhan, bukan sekedar generasi ramadhani yang hanya saleh pada bulan Ramadhan, tetapi salah karena hanya mencukupkan diri untuk menjadi saleh selama bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan mereka membiarkan diri kembali dikalahkan oleh setan, yang berwujud jin maupun manusia yang jahat, dan kemudian jauh dari nilai-nilai rabbani.
اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Hadirin Sidang Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Ketika pada hari-hari sebelum Idul Fitri ini kita menyaksikan saudara-saudara kita ada yang berangkat maupun pulang umrah, dan sebagian yang lain akan segera ulangi tradisi tahunan pulang kampung, dengan semangat generasi rabbaaniy ini kita sangat berharap ada nilai-nilai kebajikan dan kesalehan yang mereka dapatkan baik di Makkah di Madinah maupun di kota-kota di mana mereka tinggal kemudian dapat ditularkan kepada saudara-saudara kita di kampung-kampung maupun di desa-desa maupun di tempat-tempat keluarga tujuan yang lainnya, sekalipun demikian tetap juga dalam semangat kalau kita akan kembali kepada fitrah kita, asal-usul kita yang sangat mungkin itu adalah kampung halaman kita, maka sangatlah mungkin kita pun berharap bahwa kita akan mendapatkan kembali kearifan esensial yang masih membudaya di kampung halaman kita, semangat gotong royong, silaturahim, cinta lingkungan, saling menghormati dan saling berbagi, dan lain-lain, sangat mungkin itu bagian dari yang secara lapang dada harus kita adopsi dan terima kembali, agar kita semuanya baik yang pulang umrah atau pulang kampung maupun yang akan menerima kita semuanya di kampung-kampung atau tempat tujuan lainnya akan semakin mendapatkan keuntungan dari internalisasi dari nilai-nilai Ramadhan yang betul-betul akan menguatkan solidaritas di antara kita di tengah berbagai krisis yang masih melanda, menguatkan ukhuwah kita ketika ada banyak usaha untuk mengadu domba di antara ummat Islam, dan menghadirkan izzah kita sebagai ummat dan bangsa Indonesia di tengah apatisme dan ketidakpercayaan diri sebagai bangsa karena masih terulangnya beragam tragedi penegakan hukum maupun permasalahan baik sosial maupun ekonomi. Itulah yang dulu secara kreatif para ulama kita telah mewariskan suatu ungkapan yang khas Indonesia: minal aadin wal faaizin, satu doa dan kepercayaan diri bahwa kita bisa kembali menjadi manusia yang bermartabat, menjadi ummat yang bermartabat, untuk menghadirkan bangsa yang bermartabat yang karenanya kita bisa menjadi manusia dan bangsa yang menang dengan mengalahkan beragam bujuk rayu setan yang berbentuk jin maupun manusia yang akan menghadirkan kehancuran bagi masa depan kita sebagai pribadi maupun ummat dan bangsa, dan menghilangkan esensi kemerdekaan yang kemarin baru saja diproklamasikan, agar negeri ini betul-betul menjadi negeri yang بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ karena ummatnya adalah ummat yang terbaik, karena orientasi kehidupan mereka terus menyebarkan rahmat di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan setelah Ramadhan di sepanjang tahun kehidupan ummat manusia, karena memang mereka bukan generasi yang Ramadhan saja, tetapi mereka adalah generasi yang rabbaaniy.
وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79)
“Namun demikian (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbaaniy, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”(Al-‘Imraan: 79).
Dan agar apa yang menjadi kepedulian kita ini bisa mudah diwujudkan, maka sudah sewajarnya kita selalu berdoa memohon kepada Allah, Dzat yang maha mengabulkan doa, agar Allah memberikan kita kekuatan untuk bisa mengalahkan beragam halang rintang, sehingga kehadiran kita akan menjadi rabbaaniyyuun yang sungguh-sungguh dan bukan sekadar ramadhaaniyyiin saja.
Mari kita menengadah tangan, mengkhusyu’kan hati dan menutup khutbah ini dengan berdoa bersama:
َللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
“Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zalim dan kafir.”
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.”
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.”
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.”
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
(Khutbah Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H, Disampaikan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Oleh Dr. Hidayat Nur Wahid, MA)
sumber: dakwatuna



















