Jul 25 2010

z2r1

Persiapan Menyambut Ramadhan

Filed under Tak Berkategori


Coba dibayangkan, seandainya anda adalah seorang pelari nasional yang akan diutus oleh KONI untuk mengikuti lomba lari marathon dunia di Beijing, China Even tahunan ini merupakan ajang pelari menunjukkan kebolehannya dengan hadiah yang luar biasa. Untuk menghadapi lomba ini, anda akan mempersiapkan fisik dan mental jauh hari sebelum lomba.

Diantara latihan fisik yang anda lakukan adalah lari dalam jarak tertentu seperti 5, 10, 20 atau 25 km. Bahkan anda perlu mencoba lari sampai sekitar 40 km, untuk menyamai jarak yang akan dilombakan. Bisa dibayangkan kalau anda tidak melakukan latihan sampai 40 km, bisa-bisa ketika hari lomba tidak sampai finish. Hal ini menunjukkan bahwa latihan harus diusakan sesuai dengan yang akan dilombakan.

Untuk kesiapan mental terhadap cuaca di Beijing dan penduduk sekitarnya, maka anda tentunya akan tinggal di kota tersebut beberapa minggu sebelum lomba. Anda harus menyesuaikan suhu yang lebih dingin di kota tersebut. Diharapkan pada saat lomba nantinya, tubuh kita sudah siap dan tidak bakal kedinginan atau sakit perut yang bisa menyebabkan kegagalan anda.

Perumpamaan diatas mirip dengan persiapan kita ketika menghadapi bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Ramadhan yang lamanya 29 atau 30 hari membutuhkan stamina dan kesiapan yang matang. Betapa banyak kita lihat shof sholat tarawih yang penuh pada minggu pertama akan menyusut pada minggu-minggu berikutnya. Dan tidak heran kalau nanti pada minggu terakhir, beberapa warung semakin dikunjungi orang yang tidak kuat menahan haus dan lapar. Atau ada orang yang terkena gangguan kesehatan atau flu ditengah atau akhir Ramadhan, hal ini berarti fisiknya belum siap.

Untuk menghadapi Ramadhan, Rasulullah SAW sering melakukan puasa sunnat di bulan Rajab dan Sya’ban. Hal ini seperti yang tercantum dalam hadits yang diriwayatnya al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): Usamah berkata pada Nabi saw, ‘Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunat) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.’

Ibadah lain yang kita perlu persiapkan adalah qiyamullail atau sholat malam. Dalam bulan Ramadhan, peluang untuk melakukan sholat tahajjud akan besar karena kita akan bangun untuk melakukan sahur. Gunakan waktu sebelum sahur untuk memohon maghfiroh kepada Allah SWT.Bacaan atau tilawah Al Quran juga harus diperbanyak karena bulan Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran dan dimana pahala akan dilipatgandakan. Akan merugilah kita bila waktu yang tersedia dalam bulan tersebut disia-siakan tidak untuk berdzikir atau membaca Al Quran.

Jangan lupa, kita juga perlu membuat suasana ceria dalam keluarga kita dalam menyambut bulan penuh rahmah ini. Bersih dan rapikan rumah. Buatlah hiasan dirumah agar terasa suasana Ramadhan. Buat rencana untuk beribadah bersama keluarga seperti sholat berjamaah, buka puasa dan tadarus bersama.

One response so far

Jul 08 2010

z2r1

Refleksi 102 Tahun Natsir: PKS, Natsir yang melembaga

Filed under Tak Berkategori

Natsir : Pemuda pembaharu zaman

H. Mohammad Natsir. Sebentar lagi kita akan memperingati hari lahir tokoh pembaharu negeri tersebut pada tanggal 17 Juli. HM. Natsir merupakan seorang sosok pemuda yang senantiasa gelisah terhadap situasi kebangsaan yang dialaminya ketika itu. Selepas menamatkan AMS (SMA), beliau tidak menjadi Messter in de Rechten (S1 ilmu hukum) yang ketika itu menjadi satu alasan mengapa pemuda mengambil jenjang menengah di AMS, namun malah mengambil suatu pilihan yang tidak lazim bagi pemuda sezamannya; beliau mendirikan Yayasan Pendidikan Islam (PENDIS). Kegelisahannya kepada kondisi masyarakat ketika itu akhirnya menyulut jiwa patriotisme dalam diri seorang HM. Natsir muda, sehingga dalam kurun waktu 10 tahun kedepan setelah itu, yayasan tersebut berkembang menjadi beberapa cabang, antara lain TK, HIS, dan MULO.

Konfliknya yang cukup terkenal adalah ketika beliau menelurkan suatu gagasan yang akhirnya menjadi populer akibat pertentangannya dengan Soekarno: Ideologi Nasionalisme Religius vs Nasionalisme Sekuler. Saat itu Natsir muda masih sangat belia, dengan usia belum tiba di kepala tiga. Namun asimilasi ide tersebutlah yang mewarnai harian-harian negeri Indonesia yang tengah mencari jati diri bangsanya.

Satu peristiwa yang menarik adalah kedekatannya dengan tokoh Partai Katolik I.J. Kasimo, dimana mereka saling bahu-membahu bekerjasama dalam memerangi ideologi ofensif komunis. Beberapa tokoh Katolik juga bertutur, salah seorang diantaranya adalah Chris Siner Key Timu, seorang tokoh Petisi 50, yang mengatakan bahwa Natsir merupakan seorang negarawan sejati. Ketika dalam satu momen Chris berdiskusi dengan Natsir, ia mempertanyakan tentang perjuangan ide penegakan syariat Islam dalam visi Natsir. Natsir menjawab, ” Saudara Chris, bagi kami umat Islam, ide bahwa sistem terbaik dalam pandangan kami adalah sistem Islam, dan kami diperintahkan untuk memperjuangkannya. Namun kami senantiasa menghormati proses demokratisasi yang terjadi dalam implementasinya. Jika dalam satu proses demokrasi ternyata ide kami belum diterima, tentu kami akan mencoba lagi dalam pemilu-pemilu selanjutnya”. Dalam satu segmen yang lain Natsir sering bersilaturahmi kepada keluarga IJ. Kasimo, khususnya pada saat momen Natal, begitu pula sebaliknya, IJ. Kasimo yang balas berkunjung ketika hari Ied tiba.

Natsir terkenal dengan ide kebangsaannya yang akhirnya menjadi satu faktor penentu dalam perubahan arah bangsa menjadi seperti yang kita alami saat ini. Beliau menelurkan konsep Integralistik kehidupan kebangsaan yang akhirnya dikemas dengan sebutan Mosi Integral Natsir. Beliau memaparkan di DPR Sementara RIS pada 3 April 1950, yang ahkirnya sejak saat itu, Mosi Integral Natsir inilah yang menjadi embrio NKRI, pengganti konsep federal Republik Indonesia Serikat.

Demikian, Natsir merupakan satu sosok yang menjadi teladan bagaimana Islam terimplementasikan dalam wujud keseharian seorang tokoh politik. Bersahaja, bervisi, berani mengambil resiko berbeda, revolusioner, dan konsisten dalam perjuangan. Di sisi lain, Natsir sebagai sosok Negarawan Islam menggambarkan bahwa politik Islam sangat erat kaitannya dengan pluralistik dan toleransi umat. Mengambil pelajaran dari sejarah Islam masa lampau, dimana piagam madinah diterapkan, bahwa Islam sebagai satu tata pemerintahan yang apik, dinamis, berkembang, dan toleran berusaha disampaikan oleh Natsir kepada khalayak ramai masyarakat Indonesia dalam visi-visi politiknya.

Namun sayang sekali, semakin hari kita semakin kehilangan sosok teladan negarawan Islam yang bervisi besar seperti Natsir. Masih terbayang dalam benak saya pribadi ketika membaca naskah-naskah lama riwayat Natsir, didalamnya digambarkan bahwa Natsir adalah seorang tokoh yang sangat plural, namun berkarakter, sederhana, dan santun.

PKS : Partai Pembaharu zaman?

PKS saat ini menjadi satu dari partai yang saya sangat berharap besar agar bisa meneruskan jejak visi Natsir dalam berkarya. Beberapa langkah yang cukup melegakan seperti meluasnya ruang gerak PKS menjadi partai yang inklusif semakin menguatkan pemikiran saya, bahwa PKS akan menjadi suatu pribadi Natsir yang melembaga. Konsep pluralitas yang digambarkan oleh pemimpin PKS saat ini nampak sesuai dengan perkembangan pemikiran Islam mengenai politik saat ini. KH. Hilmi Aminuddin dalam wawancara eksklusifnya menyatakan bahwa masalah inklusivitas bukan perkara politik taktis bahkan bukan pula strategis. Tapi muncul dari konsekuensi keimanan kita selama ini, yakni sebagai ummatan wasathan, umat moderat, umat pertengahan. Konsekuensinya, PKS memang harus menerima pluralitas, Allah sengaja menciptakan keberagaman agar kita bisa saling menghormati dan menghargai.

Mental pembaharu dalam paradigma PKS juga cukup terlihat dari momen-momen politiknya yang cukup aktif melibatkan hubungan internasional seperti munas lalu yang menghadirkan duta besar dari Jerman, Australia, dan Amerika Serikat. Demikian juga hubungan antar partai lintas negara yang telah berhasil dibangun oleh PKS salah satunya dengan partai buruh Inggris dan Cina. Menurut saya ini merupakan satu langkah revolusioner dalam mengelola mental kebangsaan. Terkadang rasa rendah diri bangsa kita, atau mental “kampung” yang sering menjadi penyakit dalam bangsa kita seperti gontok-gontokan, berperang antar sesama, menjadikan kita lemah dan tidak berdaya menahan gempuran neo-liberalisme masa kini. Alhamdulillah, PKS berhasil memanajemen partainya sehingga dari luar, partai ini termasuk satu-satunya partai yang menurut Bachtiar Effendi, salah seorang pengamat politik nasional, partai yang mampu menyajikan politik berbiaya rendah. Satu entitas kesederhanaan berpolitik, yang secara tidak langsung cukup menguatkan ide saya bahwa PKS adalah Natsir yang melembaga.

Dalam keberjalanannya, sebagaimana Natsir yang mengawali proses perubahan sosial dari pengembangan pendidikan, PKS sepertinya juga memfokuskan pada pengelolaan dan pembinaan kader yang dipersiapkan untuk menjadi negarawan-negarawan baru, yang tergambar dalam beberapa aktivitas yang cukup kentara, yakni pembinaan kader berbasis sel. Dengan pembinaan ini, suatu kekuatan maha dahsyat, intangible Asset yang ditanamkan dalam benak kader tentang ide-ide masa depan, visi peradaban komprehensif, hubungan antara Islam dan kebangsaan, dapat mengkristal hingga menjadi satu budaya berpolitik. Lagi-lagi, saya kembali mendapatkan satu penegasan sikap bahwa PKS tampak seperti Natsir dalam ide yang mengglobal.

Mudah-mudahan apa yang tampak dari luar, demikian juga di dalam. Besar harapan saya untuk melihat PKS menjadi satu partai yang mampu mengusung perubahan zaman, menjadi leader dan rahmatan lil ‘alamin bagi entitas politik lainnya, menelurkan ide-ide visioner, membimbing bangsa ini menjadi bangsa yang besar seperti cita-cita para pendahulunya. Semoga PKS mampu berdamai dengan waktu, untuk mewujudkan visinya yang tak sederhana itu.

Selamat jalan dan ulang tahun, Natsir. Budimu pada negeri ini tak berbilang kata. Hanya Allah, Rasulullah, dan orang-orang yang beriman yang mampu menilainya. Selamat datang PKS dalam wajah baru. Segera lanjutkan visi besar seorang Natsir dalam membawa bangsa ini menjadi soko guru bagi dunia.

sumber : armyalghifari

One response so far

Jun 15 2010

z2r1

10 Perusahaan Retail Terbesar Israel di Dunia

Filed under Tak Berkategori

Jesica Stainberg

Dinas Kementerian Luar Negeri Israel

dakwatuna.com - Israel termasuk yang antusias dalam kegiatan shoping. Namun pasar domestik Israel terbatas. Ini mendorong entrepreneur Israel berinisiatif melakukan export perdagangan ke luar.

Beberapa tahun lalu, orange merupakan kommoditas eksport Israel satu-satunya. Namun Israel berkembang dalam segi komoditas eksportnya baik dalam kuantitas atau jenisnya sehingga tomat dan avokat masuk dalam komoditas ini hingga pada produk parts komputer yang paling kompleks dan rumit.
kini Israel interes dengan mengeksport ide dan konsep baru dalam riteil atau perusahaan dengan merek tertentu.

Majalah elektonik Israel21c memilih 10 perusahaan retail Israel terbesar yang beroperasi di negara asing. Bahkan sebagiannya membuka cabang di tiga benua.

1.       Hotels Fattal. Pengusaha perhotelan Israel David Fattal kelahiran Haiva mengawali usahanya menjadi operator, kemudian naik menjadi direktur operasi di hotel Africa. Pada tahun 1997 ia membentuk perusahaan Fattal Hotels yang kini memiliki 32 hotel termasuk dengan anama hotel Leonardo di Jerman, Swis dan Belgia disamping 31 hotel di Israel sendiri.
Fattal Hotel hingga Agustus lalu sudah memiliki 12 hotel dengan mereka lain di Israel termasuk hotel Sheraton. Hotel paling bergensi milik Fattal adalah hotel Leonardo di Tel Aviv yang didesain oleh arsitek Israel terkenal Moshe Casteal yang diperuntukkan bagi kaum pebisnis.

2.       Ellen merek kecantikan kulit: belakangan Ellen membuka cabangnya di Norwegia, Amerika, dan akan dibuka di Inggris. Di Israel perusahaan retail ini memiliki 43 cabang. Perusahaan ini pernah menggaet bintang Madonna sebagai bintang iklannya.

3.       Sabon perusahaan ritel untuk sabun dan lilin: Perusahaan Sabon memiliki 30 cabang di luar negeri, di Amerika, Kanada, Romania, Italia, Polandia, Belanda. Perusahaan ini didirikan tahun 1974 oleh pasangan yahudi yang memproduksi sabunnya di halaman rumahnya dengan menggunakan racikan dari warga Australia. Kini perusahaan ini sudah mengembangkan pada produk varian seperti pengharum ruangan, sabun pencuci.

4.       Castro perusahaan fashion: fashion Castro bermula konveksi sederhana yang kemudian berkembang menjadi merek fashion internasional yang memiliki 164 cabang di seluruh dunia 118 di Israel sendiri, 46 di Jerman, Russia, Kazakhstan, Thailand, Switzerland, Romania Ukraine, dan Belanda.

5.       Fox perusahaan pakaian. Perusahaan ini awalnya seperti Fox yang sederhana sejak tahun 1942. Tahun 1992 Fox sebagai perusahaan keluarga membuat gebrakan pakaian non resmi dan murah. Hingga kini Fox sudah memiliki cabang 100 di seluruh dunia; China, Thailand, Panama, Romania, Itali, Singapora, Philipina, Rusia dismaping ada 200 shop di Israel sendiri.

6.       Caffe Aroma: company Aroma berhasil selama 15 tahun sebelumnya akhirnya memutuskan membuka cabang pertamanya di Manhattan New York empat tahun lalu. Tahun 2006 perusahaan ini membuka cabangnya di Toronto Kanada. Cabang pertamanya di Eropa dibuka di Ukraina tahun 2009, kemudian di Romania dan Cyprus, Kazakhstan yang beroperasi dengan merek dagang Maroni Rousseau.

7.       Perusahaan perhiasan Badani: tahun 2006 pertama kali membuka cabangnya padahal didirikan pada tahun 1947. Kini perusahaan ini mewakili perusahaan internasional seperti: Cartier, Bulgari Braiteleyng.

8.       Perusahaan coklat Brenner: perusahaan Max Brenner adalah perusahaan coklat paling prestis di Israel. Kini perusahaan ini memiliki 18 cabang di Australia dan dua cabang di Singapora dan dua lainnya di Philipina dan dalam waktu dekat akan membuka sub cabang di New York, Boston dan Las Vegas.

9.       Perusahaan farmasi SuperFarm: ini perusahaan parmasi pertama di Israel yang menjual produk selain obat-obatan di samping perusahaan Israel Aldragstor. Kini perusahaan ini memiliki 20 cabang di Polandia, 53 store di China dengan merek dagang Live.

10.    Perusahaan aksesoris Negrin: Michal Negrin seorang wanita Israel anggota komunitas kooperative “kibbutz” memulai perjalanan usahanya dengan mendesain perhiasan, fashion, accessories yang dijual hasilnya di galleri seni yang digelar dua pekan sekali di salah satu jalan Tel Aviv. Kemudian ia memiliki store sendiri. Setelah 20 tahun perusahaan ini memiliki 26 cabang di Japan, Singapore, Australia, Perancis, Italy, Spanyol,  Inggris, Cheko, Amerika dan Mexico.

Ditranslate dari Center for the Study and Analysis of Information Releases (ip)

sumber

2 responses so far

Jun 09 2010

z2r1

Merawat Lebih Baik daripada Menanam

Filed under Tak Berkategori

Saat ini kata menanam menjadi popular di masyarakat. Di kalangan pemimpin, seruan menanam bibit pohon menjadi bobot politik yang positif untuk pencitraan dirinya bahwa mereka peduli lingkungan. Di kalangan aktifis lingkungan, kata menanam memiliki makna mengubah paradigma merusak menjadi memperbaiki. Di komunitas masyarakat kecil menanam menjadi penguatan dan dukungan akan kebiasaan baik mereka yang diparesiasi lewat program yang menguntungkan bagi mereka.

Program berbasis menanam telah banyak diluncurkan. Ada program dengan slogan “Kecil Menanam Besar Memanen”. Ada pula Slogan ”One Man One Tree”. Menanam bahkan kini menjadi acara seremonial yang menambah nilai positif dalam setiap kegiatan. Maka bermunculan pula event organizer bagi kegiatan menanam bibit pohon di berbagai kota.

Namun yang terjadi sungguh tidak memuaskan hati kita. Berbagai event menanam berakhir dengan tidak jelasnya keberhasilan bibit pohon mencapai tahap pertumbuhan yang stabil. Beberapa kasus bahkan bibit hasil kegiatan penanaman dicabut akibat ketidakpahaman dan konflik lahan pertanaman. Lebih parah lagi, kegiatan penanaman dengan dana triliunan rupiah berakhir dengan dipenjarakannya penanggung jawab proyek akibat korupsi.

Orientasi menanam tidaklah buruk. Menanam adalah orientasi mengakhiri kerusakan dan memulai sebuah kebaikan. Niat baik untuk memperbaiki lingkungan telah dituntaskan dengan masuknya bibit tanaman atau pohon ke dalam lubang tanam. Namun apakah kebaikan itu hanya kita biarkan berakhir dengan membiarkan bibit yang lemah itu merintih karena tak terawat. Bukankah justru malah kita menyakiti bibit pohon yang ditanam. Bahkan akhirnya kematian adalah nasib yang hampir pasti bagi bibit pohon bila kita mengabaikan perawatannya.

Seperti seorang bayi yang baru lahir, tanpa daya dan kemandirian. Bayi itu coba kita rawat sebentar hingga bisa berbicara dan bisa makan makanan lunak. Kemudian bayi tersebut dilepas di lingkungan dimana makanan harus diusahakan sendiri, minuman harus diraih sendiri dan perlindungan pada tubuh perlu dipenuhi. Bisakah bayi itu bertahan hidup lama tanpa ada yang merenggut dan merawatnya di tempat yang cocok baginya?

Merawat adalah tradisi mempertahankan kebaikan hingga tuntas. Merawat pohon menempa kesabaran, ketekunan, keikhlasan dan berserah diri pada-Nya. Perawat pohon meyakini bahwa tumbuhnya pohon bukan sekedar hasil upayanya sendiri, namun Tuhanlah yang menjamin pohon ini tetap hidup dan berkembang besar. Bukankah kita tidak dapat mengendalikan cahaya matahari, hujan dan udara sebagai bahan kebutuhan pokok bagi pohon. Bagaimana bila Sang Pemilik Hujan menahan waktu dan memperkecil jatah turunnya hujan? Bagaimana bila cahaya matahari tidak bisa bersinar terang sepanjang hari, bulan dan tahun karena sering tertutup awan? Atau seandainya ada hama dan penyakit baru yang kemudian menyerang tanaman tanpa diduga? Apa yang bisa diperbuat kita, manusia?
Sungguh mulia orang yang menanam sekaligus merawat kebaikan hingga memiliki manfaat besar bagi manusia. Menanam seratus kebajikan tanpa merawatnya tidak akan banyak berguna dibanding menanam satu atau dua kebajikan namun dirawat dengan penuh cinta, kasih sayang, keikhlasan dan berserah diri pada-Nya.

Selamat merawat pohon dan seluruh karunia-Nya yang diberikan pada kita Sahabat!

Achmad Siddik Thoha (group pohon Inspirasi ) di Facebook
 siddikthoha at yahoo.com

No responses yet

Jun 04 2010

z2r1

Pohon Zaitun dan Perjuangan Rakyat Palestina

Filed under Tak Berkategori

Kali ini berita tentang duka perjuangan pembelaan rakyat palestina kembali menyeruak. Hati kembali tergugah dan membuncah untuk semakin kuat membela rakyat pakestina yang semakin tertindas. Berbagai cara menolong rakyat Palestina menghadapi hambatan dan intimidasi dari penjajah Israel. Kini seluruh dunia mengutuk kebiadaban Israel yang membunuhi relawan kemanusiaan yang akan menghantar bantuan dari berbagai penjuru dunia. Hati terkoyak oleh perbuatan pengecut penjajah yang beruat teror pada pejuang kemanusian.

Berita Palestina tak habis-habisnya untuk disiarkan. Sebuah kisah panjang perjalanan memperjuangkan kemerdekaan yang mengharukan. Kisah tentang kepahlawanan di antara tekanan luar biasa dari agresor. Kisah bagaimana kehidupan para wanita yang melahirkan dan mendidik pejuang-pejuang baru. Kisah panjang rasa haru melepas anak-anak dan suami ke pemakaman sebagai syuhada. Menulis tentang palestina bagi saya adalah menuliskan luka kemanusiaan namun membuncahkan semangat perjuangan.

Saya merasa kisah Palestina adalah sebuah anugrah dari Tuhan. Perjuangan tanpa kenal lelah. Perjuangan tak memperhitungkan tetesan darah karena darah sudah membanjiri tanah-tanah mereka setiap saat. Perjalanan persaudaraan antar agama yang tertindas oleh kebiadaban sebuah negara yang tak bisa disentuh dunia. Kisah Palestina menjadi inspirasi banyak manusia untuk tetap bertahan membela hak-haknya yang terampas meski dengan tekanan luar biasa dan ketidakhirauan banyak pihak.

Di Palestina belas kasih terhadap apa yang hadir dipermukaan bumi terasa musnah oleh ambisi penjajahan. Manusia diusir dan dibantai. Masjid dan gereja digusur dan diratakan.Tanaman dari kebun dicabut dan dibakar. Pohon-pohon Zaitun, pohon yang diabadikan dalam Kitab-kita Suci pun menjadi sasaran penghancuran oleh agresor.

Namun semua perih, luka, air mata dan darah justru melahirkan kisah-kisah heroik yang menjadi inspirasi manusia di bumi ini. Masih ingatkah kita, peristiwa di akhir tahun 2008. Ketika saat itu banyak manusia hiruk pikuk menyambut gemelrap tahun baru, hujan peluru dan misil mengguncang kegelapan dan dinginnya Gaza. Api membara dan mayat bergelimpangan di Gaza saat manusia di negeri lain berkobar syahwat dan bergelimpangan di tempat hiburan. Mata dunia hanya bisa terbelalak ketika seribuan mayat anak-anak dan wanita hangus dan bersimbah darah.

Rakyat Palestina terkurung dalam penjara terkejam dan terbesar di dunia, Gaza. Suplai makanan di putus. Bahan bakar dan listrik dibatasi. Komunikasi dipantau ketat. Tekanan fisik dan jiwa yang begitu berat harus dihadapi sementara nyawa mereka harus dipertahankan dari serbuan penjajah dan pembantai.

Dunia terperangah. Serangan Israel di akhir tahun 2008 hingga awal 2009 tak sanggup melumpuhkan Gaza. Rakyat Palestina ternyata tak mampu ditundukkan oleh tembok tebal, serangan misil dan bom cluster, boikot ekonomi dan tekanan politik Internasional. Mereka bertahan hidup seolah-olah tanpa sentuhan masyarakat dunia lainnya. Mereka kemudian mendapat pujian dan simpati dunia karena perlawanan heroiknya.

Diantara rahasia kehebatan warga palestina yang sanggup bertahan hidup dan terus mengobarkan semangat perjuangannya adalah semangat mereka menanam Pohon Zaitun. Ya, Zaitun, pohon diabadikan dalam Al Qur’an, Injil dan Taurat sebagai pohon yang diberkahi. Pohon yang hanya hidup di daratan Mediterania khususnya di Laut Tengah dan tumbuh sangat subur di Palestina. Tumbuhan yang hidup subur di bukit dan pegunungan, dimana tak ada penghalang matahari bagi pertumbuhannya. Kemampuan hidup Pohon Zaitun mampu bertahan hingga ribuan Tahun. Tak Heran bila di Palestina, Pohon zaitun menjadi penyokong utama kebutuhan hidup sekaligus menjadi saksi hidup bagi sejarah perjalanan negeri dan bangsa tempat lahirnya Para Nabi.

Berbagai penelitian ilmiah menyatakan bahwa buah Zaitun tergolong zat makanan yang bagus. Di dalamnya terdapat kadar protein ,gizi dan anti oxidant yang besar, sebagaimana ia memiliki kadar garam yang mengandung kalsium, zat besi, dan fosfat. Ini merupakan zat-zat penting dan vital yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Disamping itu buah/daun/minyak/juice Zaitun dapat digunakan sebagai anti infeksi organ dalam, seperti,ginjal,empedu dan mengandung senyawa koloid yang dapat membunuh sel-sel cancer.

Menurut laporan dari situs  arrahmah.com, hasil zaitun telah memberikan andil istimewa dalam mengangkat tingkat keamanan pangan bagi orang-orang Palestina. Menghadapi berbagai peperangan dan serangan terhadapnya dari penjajah Israel dalam sejarah Palestina yang panjang, pohon zaitun tetap berdiri kokoh dan mengakar di perbukitan dan gunung-gunung Palestina. Pohon zaitun bagi rakyat Palestina merupakan simbol perjuangan dan mengakar di tempatnya. Pohon zaitun bagi mereka juga merupakan simbol keagungan dan kebanggaan di langit, dan simbol perjalanan sejarah di zaman ini.

Insinyur pertanian Muhammad Abdul Halim, warga Palestina asal Nablus, Tepi Barat, menganggap serangan terhadap Pohon Zaitun merupakan “target strategis khusus”. Terlebih hasil Zaitun dari lahan pertanian merupakan salah satu faktor ketahanan pangan Palestina dan juga salah satu bahan konsumsi terpenting bagi warga Palestina, sekaligus salah satu simbol terpenting bagi perjuangan dan pengakaran sejarah di tanah Palestina.

Penjajah Israel sangat memahami akar sejarah dan rahasia kekuatan rakyat Palestina yang sangat sulit ditundukkan. Maka, menghancurkan Pohon-pohon Zaitun, adalah salah satu cara melumpuhkan semangat perjuangan rakyat Palestina. Bagi Israel, selama Zaitun masih tumbuh subur di bumi Palestina, maka mereka terus akan menghadapi pejuang dengan fisk yang tangguh dan semangat yang sangat tinggi. Selama Pohon Zaitun kokoh berdiri maka Israel akan sulit mengalahkan pejuang palestina karena ketahanan pangan dan iman mereka terus terjaga. Bagi Israel, robohnya Zaitun akan berakibat pada terputusnya suplai pangan bergizi, runtuhnya semangat, menurunnya perlawanan dan terkoyaknya sejarah mulia tanah Palestina.

Pohon Zaitun telah mampu memberi inspirasi, motivasi sekaligus jiwa bagi sebuah bangsa untuk tetap kokoh bertahan dan melawan kezhaliman. Pohon mampu menghidupkan semangat membara manusia untuk senantiasa memelihara kemuliaan, semangat dan perjuangan. Memelihara Pohon tidak sekedar aktifitas budidaya pertanian semata dalam rangka memenuhi kebutuhan pookk manusia. Menanam pohon juga mampu menghidupkan kebanggaan, pemeliharaan terhadap sejarah, menumbuhkan semangat dan menggelorakan perjuangan bagi manusia.

oleh :Achmad Siddik Thoha
 siddikthoha at yahoo.com

One response so far

Apr 30 2010

z2r1

Inspirasi Seorang Ibu Penyelamat Lingkungan[Inspirasi]

Filed under Tak Berkategori

Ibukota DKI Jakarta menghasilkan sampah sebanyak 6,7 ton per hari atau setara dengan 28.000 meter kubik. Jumlah yang sangat besar dan 52,97 persennya berasal dari sampah rumah tangga, sekolah 5,32 persen, pasar 4 persen, dan selebihnya dihasilkan oleh kantor dan industri.

Pemerintah DKI terus berupaya untuk mengatasi permasalahan sampah diantaranya dengan mengolah menjadi pupuk kompos, dan menyiapkan sebuah energi listrik terbarukan dengan bahan baku sampah. Untuk mewujudkannya, Pemerintah DKI Jakarta telah memilih tiga perusahaan dari tender untuk memproduksi listrik hijau, yaitu PT Godang Tua Jaya, PT Total Strategic Investment, dan PT Patriot Bangkit Bekasi pada tahun 2008.

Namun dengan banyaknya produksi per hari, upaya-upaya tersebut masih belum mengatasi permasalahan akan sampah. Untuk menjadikan Jakarta kota yang bersih, indah, dan nyaman, diperlukan dukungan masyarakat. Masyarakat diharapkan mau ikut bersama-sama membantu mengurangi jumlah sampah yang ada dimulai dari rumah tangganya masing-masing.

Rumah tangga mampu memanfaatkan limbahnya hingga 60-65 persen sebagai kompos serta produk olahan lain, dan sisanya dibuang ke TPA. Artinya akan ada penurunan volume sampah rumah tangga dari 3548,99 kg (52,97 persen) menjadi +/- 1420 kg per hari. Penurunan yang sangat luar biasa.

Oleh karena itu pemerintah mengharapkan peran Ibu sebagai orang yang memiliki pengaruh di dalam rumah untuk ikut membantu menciptakan lingkungan hijau di rumah tangganya masing-masing dengan menerapkan prinsip Empat R (4R) kepada seluruh anggota rumah. Empat R (4R) tersebut Reduce, Reuse, Recycle, dan Replanting.

Berikut pengertian dan beberapa contoh yang dapat dilakukan di rumah.

1. Reduce
Yaitu upaya mengurangi sampah dengan membatasi penggunaan barang yang tidak perlu, sehingga tidak menghasilkan sampah baru. Misalnya saja melakukan efesiensi atas pengunaan air, listrik, bahan bakar, atau yang lain seperti memakai air dan detergen secukupnya dalam mencuci.

2. Reuse
Menggunakan kembali barang yang masih bisa digunakan untuk memperpanjang usia sebelum dibuang. Misalnya memanfaatkan saloon bekas speaker yang sudah tidak terpakai sebagai rak sepatu, atau dijadikan meja kecil untuk anak-anak belajar. Jika memiliki kaleng atau botol bekas dapat juga digunakan sebagai pengganti pot tanaman.

3. Recycle

Mendaur ulang sampah atau barang yang tidak dapat digunakan lagi menjadi barang baru. Ini memerlukan teknik khusus tapi tidak perlu kawatir karena saat ini sudah banyak buku yang membahas teknik daur ulang dalam skala rumah tangga seperti membuat kertas dari koran bekas, dan sebagainya. Hanya dibutuhkan kemauan untuk belajar dan mengaplikasikannya.

4. Replant
Menanam kembali di lahan yang telah rusak, jika di kota Jakarta dapat dilakukan dengan menanam pohon pada perkarangan rumah atau ruangan terbuka. Tidak harus dengan tanaman-tanaman besar, cukup sesuaikan saja dengan perkarangan rumah.

Perkarangan rumah dapat ditanami dengan tanaman obat, bumbu masak atau sayur-sayuran karena tanaman tersebut tidak membutuhkan halaman luas dan jangan gunakan pupuk kimia dalam perawatannya, gunakanlah pupuk kompos yang telah dibuat dari hasil sampah dapur sehari-hari. Disamping membuat halaman rumah menjadi asri, hasilnya juga dapat anda rasakan bersama keluarga.

Sebagai contoh, mari kita lihat sosok berikut seorang Ibu yang berhasil mengubah tempat tinggalnya menjadi kampung hijau, dan mendapat anugerah Kalpataru dari Presiden hingga akhirnya dipercaya sebagai pembicara di dalam dan luar negeri seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang.

Dengan slogan “Sampahku adalah masalahku sendiri, jangan dibebankan orang lain” ia berjuang menyelamatkan bumi. Ibu itu adalah Harini Bambang Wahono.

Sejak tahun 1980-an ia mengampanyekan pengolahan sampah rumah tangga. Saat itu ibu empat anak ini baru menginjakkan kakinya di Jakarta. Kota gersang, padat penduduk, dan bau sampah yang menumpuk mengusik hatinya untuk berbuat sesuatu.

Perempuan kelahiran 25 November 1931 ini mulai memenuhi halaman sempitnya dengan pot-pot tanaman obat dan tanaman hias. Dari hari ke hari halaman rumahnya semakin hijau.

Sampah-sampah ia pisah-pisahkan. Sampah organik dijadikan pupuk kompos. Sampah plastik, kaleng, dan kaca didaur ulang menjadi pot tanaman atau tas plastik.

“Kita harus punya kemauan yang keras,”
ujar pensiunan guru ini.

Awalnya pekerjaan Harini disepelekan para tetangga. Namun ia tak patah semangat. Bahkan, ia ajak para tetangga untuk melakukan hal serupa.

“Ngapain sih ngurusin sampah? Begitu kometar para tetangga dahulu. Nggak saya hiraukan suara kayak gitu. Lama-lama semua anggota masyarakat Banjar Sari mendukung,” tuturnya.

Harini memiliki moto untuk kampungnya: reduce (kurangi), reuse (gunakan lagi), recycle (daur ulang), dan replant (tanam lagi). Menurut dia, sampah adalah masalah sendiri-sendiri, maka setiap orang harus mengolahnya sendiri. Baginya, sampah bukan hanya urusan petugas kebersihan.

“Di rel kereta api ada sampah. Di bawah pohon ada sampah. Di mana-mana berserakan. Aduh sedih banget!” katanya.

Bagi Harini, perang melawan sampah lebih berat dibanding perang melawan penjajah. Ia kerap mendapat kecaman karena ajakan mengolah sendiri sampah rumah tangga. Saat mengajak warga di bantaran sungai untuk tidak membuang sampah sembarangan, Harini justru dikecam. “Melawan penjajah kan cepat selesai, karena ada keserentakan. Melawan sampah kan belum serentak,” katanya.

Nenek ini bertutur, pada zaman Belanda dulu tak dijumpainya tumpukan sampah. Pemerintah kolonial Belanda bersikap tegas dalam pengolahan sampah.

“Zaman penjajahan Belanda itu nggak ada sampah yang keluar dari halaman. Masing-masing (keluarga) mengolah sampah dengan sistem gali tutup. Bikin lubang untuk menanam sampah. Terus ditimbun. Kalau sudah penuh ditutup. Selang tiga bulan bisa ditanami pisang. Subur banget,” tambahnya.

Ketekunan perempuan ini melestarikan lingkungan hidup berbuah banyak penghargaan. Tahun 2000 ia meraih Juara Nasional Konservasi Alam dan Penghijauan dari Departemen Pertanian dan Kehutanan. Setahun kemudian mendapat anugerah Kalpataru dari Presiden Megawati dan penghargaan-penghargaan lain dari dalam dan luar negeri.

Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua

Salam Hijau

sumber : kaskus

No responses yet

Apr 28 2010

z2r1

The heart and cardiovascular system in the Qur’an and Hadeeth

Filed under Tak Berkategori

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:AdvTT0f485e03; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:”AdvTT28000ce1\.B”; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:AdvTT5235d5a9; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:”AdvTT94c8263f\.I”; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:AdvTT5235d5a9+20; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:AdvTT5235d5a9+fb; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:AdvTT7b6c0d50; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:845482112; mso-list-template-ids:-1470964856;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-legal-format:yes; mso-level-text:”%1\.%2\.”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 {mso-level-legal-format:yes; mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level4 {mso-level-legal-format:yes; mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l0:level5 {mso-level-legal-format:yes; mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l0:level6 {mso-level-legal-format:yes; mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l0:level7 {mso-level-legal-format:yes; mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l0:level8 {mso-level-legal-format:yes; mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l0:level9 {mso-level-legal-format:yes; mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9\.”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-54.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-language:EN-US;}

A b s t r a c t

Descriptions of the human anatomy derived from religious texts are often omitted from the medical literature. The present review aims to discuss the comments and commentaries made regarding the heart and cardiovascular system as found in the Quran and Hadeeth. Based on this review, it is clear that these early sources both had a good comprehension of these parts of the body.

1. Introduction

Progress within the 20th century alone has produced an immense amount of literature and understanding in anatomy, medicinal health, and the correlation between the two. Our comprehension of the two,however, would not be possible without the important discoveries

and critical observations of our predecessors such as the Father of MedicineHippocrates (463370 BC), the Father of Modern Anatomy Andreas Vesalius (15141564), and Abu Ali al-Husain ibn Abdallah ibn Sina (Avicenna) [1] and [2]. While the contributions of Galen and Hippocrates are well known, contributions to medicine by numerous religious texts including the Hindu Vedas, JudeoChristian Bible and Talmud, and the Islamic Qur’an and Hadeeth (prophetic sayings of Mohammad) are often omitted from the literature. Found within the Quran and Hadeeth are accurate descriptions of anatomical structures, surgical procedures, physiological characteristics, and medical remedies. In particular, prophylaxis of general diseases is emphasized by encouraging physical activity, herbal and organic remedies, and spiritual revitalization. Notably, within these two texts, is the emphasis on the heart and blood as both a vehicle for life and as an organ central to affecting emotion and attitude. Furthermore, the lifestyle prescribed by these Islamic traditions promotes longevity of life, prevention of cardiovascular diseases, and discourages risk factors associated with such diseases. Therefore, it is evident that the authors of the texts had a good understanding of both the etiology and pathology of many diseases of the heart and

cardiovascular system.

Although there is a considerableamount of information in the Qur’an and Hadeeth about general medicine and anatomy, there is a lack of reliable and critical research. Hence, the purpose of this review is to accurately present the anatomical and medical contributions of the Qur’an and Hadeeth, with specific focus on the cardiovascular system.

2. History of the Qur’an and Hadeeth

The entire Qur’an is believed to be the direct word of God according to Muslims, revealed to the Prophet Mohammad through the Angel Gabriel over a span of 23 years (610–632 AD). Though revealed during these years, the transmission of the verses was conducted orally until it was compiled and canonized the year after Mohammad’s death. The exegesis of the Qur’an was carried out by scholars in later centuries, the most popular being made by Ibn Kathir

in the 14th century. The Hadeeth are the sayings, rulings, advices, actions and habits of the Prophet Mohammed which are distinct from the direct words of God and were also transmitted orally until they were organized into a comprehensive permanent record in the 9th century. Scholars of the time were meticulous in their work and employed stringent rules as to which sayings of Mohammad would be included in the compilation to ensure accuracy and authenticity. Only the sayings that had a strong, credible line of transmission were collected and written. Both the Qur’an and the Hadeeth were used when creating the Islamic law Shariah, “Path.”

3. General views about medicine in Qur’an and Hadeeth

History has shown an antagonistic relationship between religion and science, as the authority and power exerted by the Christian Church during the Middle Ages and Renaissance stifled open scientific. The Quran and Hadeeth even include some of the discoveries made during the time of its creation. According to the Quran and Hadeeth, God created disease and God also created a treatment for every disease. There is a prophetic tradition where Mohammad has been reported to have said that for every disease there is a remedy, and when the remedy is made apparent, the disease is cured by the permission of God [4]. Therefore, people are encouraged to pray, but also seek out treatments. Anything that harms the body, mind and

soul must be treated. It is for this reason that physicians were highly valued members of the community and Mohammad called upon them to treat illnesses. This demonstrates that Islam was compatible with medicine; the need for medical treatment was accepted and required.

In the Quran and Hadeeth, two different forms of treatment can be foundspiritual healing and physical healing. There are at least six verses which discuss divine healing. The medium through which this healing occurs is via the teachings and revelation of the Quran, a scripture that has been revealed as a mercy and healing to those who think[5]. This form of healing treats, specifically, the heart, as God removes rage form their hearts[6]. The Qur’an mentions hidden ailments meaning doubt, impurity, hypocrisy, disbelief, and falsehood,

attributed as diseases of the heart. Proverbs and stories in the Qur’an discuss faith and loyalty to the divine and state that they who sincerely trust will curethen when they are ill [7]. Although spiritual healing is most mentioned in the Qur’an, it would be erroneous to claim that the practice of medicine was meant only for the divine. While the scripture and remembrance of God is supposed to heal the hidden ailments of people, many Muslim physicians found treatment options in the Quran and the Hadeeth. Physical ailments and their treatments are discussed in the Quran and Hadeeth, such as abdominal pain, diarrhea, fever, leprosy, and mental illness. Mohammad is reported to have said that healing is in three things: a gulp of honey, cupping, and cauterizing, but that cauterization should be a last

resort [8]. Honey was offered as treatment for many illnesses, such as abdominal discomfort and diarrhea. Honey contains the therapeutic contents sugars, vitamins, anti-microbials, among other things. Black cuminwas also a source of treatment [9], as was At-Talbina (a porridge prepared from milk, honey, and white flour [10], Indian incense for throat trouble and pleurisy, eating dates protected against poison [11],breastfeeding [12], ablution and forgiveness. Furthermore, the well of Zam Zam, a miraculously generated source of water in Mecca was believed to be a treatment for fevers [13]. Thus, the Quran and Hadeeth offer treatments for numerous illnesses common in Arabia during that time, establishing the important concept that Islamic tradition recognizes treatments for the illnesses and the treatments must be sought out and provided to patients. Both preventative and therapeutic medicines are discussed in the Quran and Hadeeth; however, it is prevention of human sins, illnesses and diseases that is most emphasized. In the Islamic doctrine, human illness was prevented through compulsory hygienic practices. The importance of cleanliness was emphasized in prophetic traditions. For instance, Mohammad states that while praising God is half of faith, cleanliness is the other half [14]. In another tradition, Mohammad is reported to have said that surgical circumcision, clipping or shaving the pubes, cutting the nails, plucking or shaving the hair under the armpits and clipping (or shaving) the moustache are all acts that

benefit the body and thus bring one closer to God [15]. In addition, the transmission of certain diseases that were communicable by touch and airwas known, which is why the idea of quarantining the sickwas encouraged and practiced. Narrations exist where Mohammad

admonishes healthy individuals to “…flee from a lepers as you flee froma lion[16] and the narration alsowarns those who are healthy to keep away from those who are sick. Furthermore, the Quran forbids foods to be eaten that can easily transmit food-borne diseases such as Trichinella, Taeniasis and Neurocysticercosis, as can be seen in the following verse; Forbidden to you (for food) are: dead meat, blood, the flesh of swine, and that on which hath been invoked the name of other than God; that which hath been killed by strangling, or by a violent blow, or by a headlong fall, or by being gored to death; that which hath been (partly) eaten by a wild animal; unless ye are able to slaughter it (in due form); that which is sacrificed on stone (altars); (forbidden) also is the division (of meat) by raffling with arrows: that is impiety[17]. Noise pollution is also mentioned in the Hadeeth, where Mohammad encourages his followers not to speak in a loud voice or to engage in any act that consisted of loud sound, which is why drumming, blowing of a horn, and ringing bells were all turned down by Mohammad when it came to deciding how to deliver the call for prayer. Alcohol is also forbidden in Islam, as is made clear by the Qur’anic injunction. Therefore, it is apparent that the Qur’an discouraged actions that might adversely affect the body such as extremely loud noise and unsanitary food. Indeed, these Quranic verses motivated health consciousness. Verses from the Quran and many prophetic sayings deal with public and individual health, both resources heavily emphasizing the cardiovascular system. The importance of the heart to the human being as an organ for survival in Islam, as well as the organ of the human psyche is a critical to understanding Islamic teachings. Hence, this rest of this review will focus in on Quranic understanding of the cardiovascular system.

4. The cardiovascular system

Various aspects of the cardiovascular system are mentioned in both the Quran and the Hadeeth. The Quran and the Hadeeth discuss the importance of the heart, blood and its circulation and howthey are vital to the maintenance of life.

4.1. Blood and circulation

Blood is mentioned in several passages of the Quran and Hadeeth. In general, blood is mentioned in relation to lineage and identity, menstruation, slaughtering of animals for consumption, and embryology.

The relationship between God and man is illustrated in the following verse; We created manWe know what his soul whispers to him: We are closer to him than his jugular vein[18]. The Qur’an establishes the intimate relationship with God and humans by asserting that God, in fact, is even more intimate with His creation than this vital blood vessel. By noting the importance of the internal jugular vein and its connection with the heart, the authors of the Quran were well aware of the vitality of blood and the heart to the maintenance of life. It was also known that blood circulation reached all parts of the body and is an important element to life [19]. Another great vessel mentioned in the Quran is the Al-Aatín or

aorta We would certainly have seized his right hand and cut off his Al-Watín,[20]. Al-Watín has been translated into different, yet similar words, including aorta[21], life-artery[20] and [21], and simply artery[21]. This verse is taken to mean that if the Prophet

2 M.

ARTICLE IN

Mohammed was lying about the teachings of God, then God would have grabbed the Prophet Mohammad’s arm and cut a vital artery, certainly killing Mohammad. This verse confirms that 1. Blood was indeed viewed as a vehicle for life and 2. The artery directly leading

from the heart is vital to survival. By analyzing the different translations and exegesis of Al-Watín, it can be safely assumed that it is the aorta that the author of the Qur’an is referring to in this verse. Blood is also mentioned numerous times in verses discussing food. For instance, the intake of blood is completely forbidden, and all of the blood of a slaughtered animal must be drained at the time of the slaughter as the carotid arteries and jugular veins are severed. There seems to be an acknowledgement in the Qur’an that some blood is impure and can contain and transmit pathogens leading to disease. In addition, during menstruation, women are to abstain from sexual intercourse and the ritual prayer because menstrual blood is

considered impure. However, not all blood is impure, as Mohammad distinguishes between menses and blood “…from a blood vessel;” if a woman’s uterine vessels are to rupture causing bleeding, the restrictions placed on a female during menstruation does not apply

[22]. Blood is also used when the Qur’an describes the early stages of the embryo as “congealed blood” or “blood clot” (to be discussed later in the paper). Thus, we find several comments of blood in the Qur’an as an impurity, as spreading disease, a sign of lineage, and in relation to women’s health.

4.2.Heart

The heart is mentioned numerous times in both the Qur’an and Hadeeth and is used in many different contexts, such as “in the heart” or “from the heart.” The repetitive use of the concept of the heart illustrates its centrality to the core of every individual. Firstly, the importance of the heart is demonstrated in the fact that we find different states of the heart in the three groups of people that the Qur’an describes; the mu’minun (Believers) have hearts that are

alive, the kafirun (the rejecters of faith) have hearts that are dead, and the munafiqun (the hypocrites) have hearts that are diseased. The two general types of heart that are described are the extensively described spiritual heart and the physical heart. In general, religious scholars discuss two types of (spiritual) heart diseases: shubahat which relate to one’s level of understanding and trust, and shahawat which are desires of the self and become diseases

when they grow out of proportion. Emotions, attitudes, knowledge, diseases, desires, truthfulness, actions and intentions are all rooted in the heart. As such, the heart is the core of every human being, as it is directly involved in the relationship between the individual and God, it governs all actions, and it is the possessor of all emotional faculties. Thus, the role the heart plays in Islam is given much more importance and emphasis than the physiological function and purpose ascribed to heart in traditional science. The Qur’an shares with the Hadeeth a metaphorical description of the heart as a possessor of emotional faculties, thus giving the heart many characteristics thatmodern science attributes to the brain. As is popularly stated in Islamic culture, every action is dependent upon intentions [23], and “…what counts is [to God] the intention of your hearts…” [24]. These actions, whether “good” or “bad” determine the health of the heart, namely if it is a sound or diseased heart. A diseased heart is one filledwith qualities such as doubt [25], hypocrisy [26], and ignorance [27] among many others. Possessors of such qualities have a “hardened,” diseased heart [28]. Other malaise qualities contributing to a diseased heart includes blasphemy, rejection of truth, deviation, sin, corruption, aggressiveness, negligence, fear, anger, and jealousy, among others. Considering the physical, social, and emotional impact these characteristics can have on a person, the author of the Qur’an asserts “…there hath come to you a direction from your Lord and a healing for (for the diseases) in your hearts” [29]. This is so because “…neither

money nor children will benefit [on the Day of Resurrection] except whoever meets God with a sound heart” (emphasis added) [30]. It is important to note the link between knowledge and the heart; the “perverse” heart and the heart filled with knowledge, faith, belief and

wisdom are antagonistic in nature, and it is the latter that is favored by the author of the Qur’an [31]. Although there are multiple Qur’anic verses and prophetic traditions regarding the spiritual heart, a few but important references have certainly been made about the anatomy and physiology of the physical heart as a vulnerable organ vital to the human being.We first see the heart referred to as a muscle and not in a metaphorical sense in a prophetic tradition, where it is stated, “Beware! There is a piece of flesh in the body if it remains healthy the whole body becomes healthy, and if it is diseased, the whole body becomes diseased. Beware, it is the heart” [32]. This tradition holds true if taken either

literally or spiritually. Furthermore, there is a prophetic tradition that discusses heart surgery, extraction of a blood clot, and treatment of the heart as follows: the Angel Gabriel came to Mohammad as a child while he was playing with playmates, “…lay him prostrate on the

ground and tore open his breast and took out the heart from it and then extracted a blood-clot out of it and said, ‘That was the part of Satan in thee.’ And then he washed it with the water of Zam Zam in a golden basin and then it was joined together and restored to its place” [33]. Thus, although rudimentary and perhaps even metaphorical, the surgery described required knowledge of the anatomical and physiological importance of the heart to the healthy functioning of the body and the detrimental effects of a thrombus.

4.3.Cardiovascular disease

Although not outwardly mentioned in the Qur’an and Hadeeth, the lifestyle that the authors of the Qur’an encourage drastically decreases the chances of individuals developing such cardiovascular diseases such as heart diseases, blood clots, atherosclerosis and arteriosclerosis via the following ways: engaging in spiritual activities, moderate eating, physical labor, reducing anger and jealousy, eliminating greediness, and abstention of forbidden foods and drinks. The Islamic prayer is performed at least five times a day and

consists of a series of movements entailing standing, prostrating, and sitting. When performing prayer, the author of the Qur’an discourages lazily performing prayer as performed by the Hypocrites [34]; thus, a lethargic and carelessness approach to prayer neither obtains any spiritual nor physical benefit to the state of health. Also, the amount of

prostrations, and thus physical movement, during a prayer varies from one prayer to the next.We find that increased number of prostrations in a prayer (i.e. physical movement) correlates with the time of day when one usually eats, possibly to help digest food and, in the long run, reduce the chances of thrombus formation. In addition, the author of the Qur’an states, “Truly it is in the remembrance of God that the hearts find peace” [35]. It is said that Mohammad advised people not to go to sleep immediately after meals, for thatwould lead to a hardening of the heart [36]. It was also advised not to engage in strenuous physical activity after eating. The physical movements during prayer also help prevent deep vein thrombi. Repetitive standing–sitting actions throughout the day activate the muscle pump in leg muscles (such as the gastrocnemius and soleus), which increase the venous return to the heart upon standing and displaces blood from peripheral to central veins, thus preventing edema and decreasing the probability of forming thrombi. Furthermore, Mohammad encouraged the consumption of foods such as white meat of fish that are low in fat and help decrease serum

cholesterol levels. He also encouraged the consumption of whole-grain brain for higher fiber intake. The author of the Qur’an and Mohammad have discouraged the consumption of pig meat, probably due to the diseases which they transmit (i.e. Trichinella, Teniasis, etc) and because of its high content in fat and calories. Finally, the consumption of alcohol is also forbidden

[37]; although the author of the Qur’an acknowledges the benefits of alcohol, He also states that more harm than benefit exists in its consumption [38]. Alcoholism affects virtually all organs of the body including the liver, stomach, intestines, pancreas, heart and brain and

can cause numerous problems including liver cirrhosis, pancreatic insufficiency, cancer, hypertension and heart disease. Thus, the likelihood of obtaining various cardiovascular diseases is significantly decreased through the lifestyle encouraged by the Qur’an and Hadeeth.

5. Contributions to medicine

Experimental embryology is a fairly recent discovery, its roots beginning with the invention of the microscope in the 17th century. Even so, the idea that the human being developed in stages to form the fetus rather than in a miniature human form present in a gamete developed much later in history as more accurate stages in embryological development were described with the introduction of technologically advanced equipment. The Qur’an and the Hadeeth

provide detailed, accurate descriptions of the major events that occur during embryological development. The terminology used by the author of the Qur’an is “…characterized by descriptiveness, accuracy, ease of comprehension, and integration between description of

appearance and main internal processes” and the “timing of sexual development, fetal development and the acquisition of a human appearance” are also discussed [39].

Although many verses in the Qur’an and prophetic traditions discuss the development of the embryo, only two will be described below. It is remarkable to note that the descriptions presented in these 7th century texts closely resemble the various stages of the embryo.

“We [God] created man from a quintessence of clay.We then placed himas a nutfah (drop) in a place of settlement, firmly fixed, thenWe made the drop into an ‘alaqah (leech-like structure), and then We changed the ’alaqah into a mudhah (chewed-like substance, somite

stage), then We clothed the bones with lahm (muscles, flesh), then We caused himto growand comeinto being and attain the definitive (human) form. So, blessed be God, the best to create” [40]. “When forty-two nights have passed over the conceptus, God sends an angel to it, who shapes it (into human form), makes its hearing, sight, skin, muscles and bones…” [41].

Shortly after the death of Mohammad, not only did his followers vastly expand the Islamic empire, but they also became scientific and medical innovators and educators. The Islamic empire, for more than 1000 years, remained the most advanced and civilized empire in the

world, and the inspiration of all the scientific and medical discoveries and practices stemmed from the teachings of the Qur’an and the Hadeeth, teachings that strongly encouraged and supported the drive to seek knowledge and to make scientific achievements and discoveries.

For instance, a fewcenturies after the death of Mohammad, the medical education that developed closely resembled what we have today. The curriculum consisted of training in the basic sciences, which included anatomy being taught by dissecting apes, skeletal studies, and didactics, and clinical training, where therapeutics, pathology, surgery, and orthopedics were taught [42]. Licensing examinations and boards were first established and requiredwithin the Islamic empire beginning 931 A.D. The transmission of various diseases was well known around this time, which led to the creation of differentwards at hospitalswhich treated different illnesses. Also, this was the first time in history where leprosy and mental illnesses were not viewed as demonological events but as treatable, physical diseases [43]. This erawas also the first time where patient records were written and stored. There were numerous other contributions made by a number of Muslim physicians in various fields of medicine, including medical education, hospitals, bacteriology (Al-Razi), anesthesia (first oral

anesthetics by Avicenna), psychotherapy (Najab ud din Mohammad), surgery (Abu al-Qasim Khalaf Ibn Abbas Al-Zahrawi), ophthalmology (Ibn al-Haytham), pharmacology (Masail Hunayn), cancer treatment (Avicenna), physiology (Al-Ash’ath) and anatomy (Ibn Nafis) [44]. Most notable of these to cardiovascular anatomy was the findings of Ibn al-Nafis, a 13th century Syrian physician, who boldly rejected Galen’s assertion that there was a direct (but invisible) passage through the interventricular septum between the right and left ventricles. Ibn al-Nafis, who wrote medical, theological and philosophical works, made his greatest contribution in Sharh tashrih ibn Sina (“Explanation of the Dissection of Avicenna”), as he asserted that there was no direct interventricular opening and outlined, for the first

time in history, the pulmonary circulation: “The blood, after it has been refined in this cavity [i.e., the right ventricle], must be transmitted to the left cavity where the [vital] spirit is generated. But there is no passage between these two cavities; for the substance of the heart is solid in this region and has neither a visible passage, as was thought by some persons, nor

an invisible one which could have permitted the transmission of blood, as was alleged by Galen. The pores of the heart there are closed and its substance is thick. Therefore, the blood after having been refined, must rise in the arterious vein [i.e., pulmonary artery] to the lung in order to expand in its volume and to be mixed with air so that its finest part may be clarified and may reach the venous artery [i.e., pulmonary vein] in which it is transmitted to the left cavity of the heart. This, after having been mixed with the air and having attained the aptitude to generate the [vital] spirit. That part of the blood which is less refined is used

by the lung for its nutrition” [45]. Ibn al-Nafis is one of numerous examples of themodern contribution of the teachings of the Qur’an and Hadeeth to modern medicine.Much of

the scientific discoveries and advancements during the Renaissance were largely influenced by the works of various Islamic physicians and scientists.

6. Conclusions

The Qur’an and prophetic traditions and sayings of Mohammad were religious, spiritual, and scientific and influenced medical and anatomical texts. In particular, specific emphasis is given to the components of the cardiovascular system. The heart is extensively described as both an organ of psyche, intelligence, and emotion, as well as an important body of the organ that can be harmed such as exhibiting thrombi. An in-depth analysis of the contribution of Islamic medicine in anatomy, physiology, and health is severely lacking in the West and, if conducted, would uncover that discoveries made by European scientists were actually made centuries prior, within the vast Islamic empire. Perhaps European scientists during the Middle

Ages and beyond failed to benefit from the discoveries of the neighboring Islamic empire for multiple reasons, including poortranslations [46] and the unreadiness of the medical establishment to give prominence to observation and study over the word of ancient authority [47]. As new advances in technology and medicine continue to grow at an exponential rate today, there is time to reflect and appreciate the Islamic contribution to medicine. It is for this reason that the discoveries and medical revelations in Qur’an should not be

ignored or forgotten. Acknowledgement The authors of this manuscript have certified that they comply with the Principles of Ethical Publishing in the International Journal of Cardiology [48

References

[1] Tan SY. Medicine in Stamps Hippocrates: Father of Medicine. Singap Med J

2002;43:5–6.

[2] Tan SY, Yeow ME. Medicine in Stamps: Andreas Vesalius (1514–1564): Father of

Modern Anatomy. Singap Med J 2003;44:229–30.

[3] Zindani AA, Johnson EM, Goeringer GC, et al. Human Development As Described in

the Qur’an and Sunnah: Correlation with Modern Embryology, vol. 2. Bridgeview,

Illinois: Islamic Academy for Scientific Research; 1994.

[4] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book 25, hadeeth 5466.

[5] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 10. Oxford University

Press; 2005. p. 57. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[6] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 9. Oxford University

Press; 2005. p. 14–5. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[7] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 26. Oxford University

Press; 2005. p. 80. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[8] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book 71, hadeeth 584.

[9] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book #71 hadeeth 592.

[10] ImamYO. Health Care Services in the ContemporaryWorld. IslamQ 1995;39:234–55.

[11] Muslim I. Sahih Muslim Volumes I–IV. Translated Muhammad Muhsin Khan, Al

Saadawi Publications, 1996, Book 023, hadeeth 5080.

[12] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 2. Oxford University

Press; 2005. p. 233. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[13] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book 54 hadeeth 483.

[14] Muslim, I. Sahih Muslim Volumes I–IV. Translated Muhammad Muhsin Khan, Al

Saadawi Publications, 1996, Book 002 hadeeth 432.

[15] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book 72 hadeeth 777.

[16] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book 71 hadeeth 608.

[17] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 5. Oxford University

Press; 2005. p. 3. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[18] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 50. Oxford University

Press; 2005. p. 16. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[19] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book 3 hadeeth 251.

[20] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 69. Oxford University

Press; 2005. p. 45–6. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[21] Translations of the Qur’an. Translated by Abdullah Yusuf Ali, Marmaduke Pickthall,

and Mohammad Habib Shakir, University of Southern California: Center for

Muslim–Jewish Engagement, Webpage Accessed March 18, 2009, usc.edu/schools/college/crcc/engagement/resources/texts/muslim/quran/.

[22] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book 4 hadeeth 228.

[23] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book 1 hadeeth 1.

[24] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 33. Oxford University

Press; 2005. p. 5. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[25] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 74. Oxford University

Press; 2005. p. 31. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[26] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 8. Oxford University

Press; 2005. p. 49. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[27] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 22. Oxford University

Press; 2005. p. 63. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[28] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 22. Oxford University

Press; 2005. p. 53. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[29] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 10. Oxford University

Press; 2005. p. 57. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[30] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 26. Oxford University

Press; 2005. p. 87–9. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[31] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 3. Oxford University

Press; 2005. p. 7. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[32] Al-Bukhari MI. The English Translation of Sahih Al Bukhari With the Arabic Text (9

Volume Set). Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al-Saadawi Publications,

1996, Book 2 hadeeth 49.

[33] Muslim I. Sahih Muslim Volumes I–IV. Translated by Muhammad Muhsin Khan, Al

Saadawi Publications, 1996, Book 1 hadeeth 311.

[34] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 4. Oxford University

Press; 2005. p. 142. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[35] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 13. Oxford University

Press; 2005. p. 28. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[36] Al-Jauziyah IIQ. Healing with the Medicine of the Prophet (Peace be upon Him).

Fordham University: Darussalam Publishers & Distributors; 1999. Translated by

Jalal Abual Rub.

[37] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 5. Oxford University

Press; 2005. p. 90. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[38] The Qur’an: A new translation by M.A.S. Abdel Haleem, vol. 2. Oxford University

Press; 2005. p. 219. Translated by M.A.S. Abdel Haleem.

[39] Zindani AA, Johnson EM, Goeringer GC, et al. Human Development As Described in

the Qur’an and Sunnah: Correlation with Modern Embryology, vol. 1. Bridgeview,

Illinois: Islamic Academy for Scientific Research; 1994. p. 28.

[40] Zindani AA, Johnson EM, Goeringer GC, et al. Human Development As Described in

the Qur’an and Sunnah: Correlation with Modern Embryology, vol. 31. Bridgeview,

Illinois: Islamic Academy for Scientific Research; 1994. (translation of Qur’an

23:12–24).

[41] Zindani AA, Johnson EM, Goeringer GC, et al. Human Development As Described in

the Qur’an and Sunnah: Correlation with Modern Embryology, vol. 31. Bridgeview,

Illinois: Islamic Academy for Scientific Research; 1994. (from a hadeeth related by

Muslim, Abu Dawud, At-Tabarani, Ja’far Al-Faryabi and Ibn Hajar).

[42] Syed IS. Islamic Medicine: “1000 years ahead of its times. J Int Soc History Islamic

Med 2002;2:4.

[43] Syed IS. Islamic Medicine: 1000 years ahead of its times. J Int Soc History Islamic

Med 2002;2:8.

[44] Syed IS. Islamic Medicine: 1000 years ahead of its times. J Int Soc History Islamic

Med 2002;2:4–8.

[45] Quoted in Prioreschi P. Anatomy in Medieval Islam. J Int Soc History Islamic Med

2006;3.

[46] Hehmeyer I, Khan A. Islam’s forgotten contributions to medical science. Can Med

Assoc J 2006;176:10.

[47] Prioreschi P. Anatomy in Medieval Islam. J Int Soc History Islamic Med 2006;5.

[48] Coats AJ. Ethical authorship and publishing. Int J Cardiol 2009;131:149–50.

M. Loukas et al. / International Journal of Cardiology xxx (2009) xxx–xxx 5

Ar t i c l e i n f o

Article history:

Received 7 May 2009

Accepted 12 May 2009

Available online xxxx

Keywords:

Cardiovascular system

History of cardiology

History of medicine

Cardiovascular system and religion

Review

The heart and cardiovascular system in the Qur’an and Hadeeth

Marios Loukas a,⁎, Yousuf Saad a, R. Shane Tubbs b, Mohamadali M. Shoja c

a Department of Anatomical Sciences, St. George’s University, School of Medicine, Grenada, West Indies

b Pediatric Neurosurgery, Birmingham, AL, USA

c Clarian Neuroscience Institute, Indianapolis Neurosurgical Group, Indiana University Department of Neurosurgery-Indianapolis, IN, USA

Sumber : “ International Journal of Cardiology” journal homepage: www.elsevier.com

No responses yet

Apr 25 2010

z2r1

Kementerian Keuangan Buka Lowongan CPNS

Filed under Tak Berkategori

JAKARTA, KOMPAS.comKementerian Keuangan (Kemenkeu) diperkirakan akan membuka peluang kerja bagi para lulusan sarjana Strata 1 (S-1) dan Strata 2 (S-2) pada tahun 2010 ini sekitar 1.722 calon pegawai negeri sipil (CPNS) baru. Untuk mendapatkan peluang ini, dilaksanakan penyaringan yang terdiri dari empat tahapan, yakni tes potensi akademik, psikotes, tes kesehatan dan kebugaran, serta wawancara.

Demikian siaran pers Kepala Biro Humas Kemenkeu Harry Z Soeratin di Jakarta, Kamis (15/4/2010). “Diperkirakan, kebutuhan pegawai baru Kementerian Keuangan tahun ini sebesar  1.722 orang. Di mana jumlah tersebut akan dibagi ke dalam 12 unit eselon I sesuai dengan kebutuhan tiap instansi. Walaupun berbasis keuangan, tampaknya Kementerian Keuangan tidak hanya memberikan kesempatan bagi sarjana lulusan jurusan ekonomi dan jurusan-jurusan terkait keuangan lainnya,” katanya.

Dijelaskan, Kementerian Keuangan pun akan membuka peluang bagi sarjana lulusan dari jurusan desain komunikasi visual, ilmu sejarah, sastra Arab, sastra Jepang, sastra China, pendidikan bahasa Indonesia, hingga pendidikan Matematika. Dikatakan, persyaratan yang diberikan pada penyaringan kali ini lebih kurang sama dengan persyaratan pendaftaran penyaringan CPNS Kementerian Keuangan pada tahun 2008.

Persyaratan tersebut terkait dengan usia, kualifikasi pendidikan, indeks prestasi kumulatif, kesehatan, dan kesediaan penempatan saat lulus nantinya. Informasi lengkap mengenai persyaratan dan tata cara pendaftaran secara lengkap dan resmi akan diumumkan pada awal bulan Mei 2010. Pendaftaran penyaringan ini secara keseluruhan akan dilaksanakan secara online.

Namun, calon peserta diharapkan sudah mempersiapkan segala keperluan sejak dini khususnya yang terkait dengan kebutuhan administrasi, misal surat keterangan sehat, surat keterangan kelakuan baik, kartu kuning, dan legalisasi ijazah.

“Selain itu, tampaknya dalam pelaksanaan proses penerimaan nanti, grading penerimaan akan diperketat dari tahun-tahun sebelumnya, terutama untuk hal-hal yang terkait dengan integritas dan kompetensi dasar. Khusus untuk tes kesehatan dan kebugaran akan disesuaikan dengan standar yang ada, maka setiap peserta harus berada dalam kondisi yang benar-benar sehat dan tidak dalam kondisi yang memberatkan, misal hamil,” kata dia.

sumber : Kompas.com

No responses yet

Mar 23 2010

z2r1

INFO:(Semoga Bermamfaat)

Filed under Tak Berkategori

Lomba I

Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya sebagai berikut:

Ketentuan Umum
• Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
• Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
• Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
• Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
• Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
• Tema bebas.
• Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)
Ketentuan Khusus
• Panjang naskah minimal 150 halaman kuarto, 1,5 spasi, Times New Roman 12
• Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah
• Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2010
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta 10330

• Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2010 (cap pos atau diantar langsung)
Lain-lain
• Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada pertengahan Januari 2011.
• Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
• Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
• Pajak ditanggung pemenang.
• Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.
• Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id
• Dewan Juri: Agung Ayu, Anton Kurnia, dan A.S. Laksana

Hadiah

Pemenang utama Rp. 20.000.000
Empat pemenang unggulan @ Rp. 7.500.000

Info:
 http://www.dkj.or.id/?opt=pages&cids…

Lomba II
Dalam rangka milad Helvy Tiana Rosa ke 40, Klub Pembaca HTR menyelenggarakan LOMBA MENULIS ESEI TINGKAT NASIONAL TENTANG HELVY TIANA ROSA dengan tema: “Helvy Tiana Rosa, Karya dan Dunianya”.

Ketentuan:

1. Lomba terbuka bagi umum
2. Panjang naskah bebas.
3. Naskah belum pernah dipublikasikan sebelumnya dlm bentuk apapun.
4. Tulisan bisa berisi tentang pengalaman membaca karya HTR, pandangan dan kritik terhadap karya-karya HTR, pengaruh (karya) HTR terhadap penulis dan masyarakat, kenangan yang berkesan bersama HTR, inspirasi yang didapat dari sosok dan karya HTR, dan sebagainya.
5. Naskah dikirim paling lambat 15 April 2010, ke:  helvytiana at yahoo.com dan lebih disukai diposting pula di sini (fan page HTR di FB rentang Maret-April (boleh dilengkapi foto/ gambar/ dokumen yg relevan).
6. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.

Pemenang:

Pemenang akan diumumkan 30 April 2010.
Dewan Juri akan memilih Juara I-3 serta 10 pemenang hiburan.

Hadiah:

Juara I: Rp. 2.000.000, piagam, paket buku HTR
Juara 2: Rp. 1.000.000, piagam, paket buku HTR
Juara 3: Rp. 750.000, piagam, paket buku HTR
10 pemenang hiburan akan mendapatkan @ Rp.300.000, sertifikat dan paket buku dari HTR.

Keputusan Dewan Juri mutlak dan tak dapat diganggu gugat. Tidak ada surat menyurat.
Seluruh naskah menjadi milik panitia dan hak penerbitannya untuk pertamakali ada pada panitia.

IKUTILAH KONTES WRITE A STORY!

Kontes Write a Story adalah lomba menulis cerita untuk buku-buku anak yang diselenggarakan oleh Erlangga for Kids (EFK), salah satu divisi penerbitan Erlangga Group.

Syarat & Ketentuan:

Peserta adalah pria/wanita dewasa (usia diatas 18 tahun).Cerita yang ditulis untuk anak usia 5 – 12 tahun. Panjang cerita 3 halaman, 1 ½ spasi, times new roman 11. Tema cerita bebas dan orisinil (fantasi, fabel, humor, dsb) serta tidak mengandung unsur SARA. Naskah cerita yang dikirimkan belum pernah dipublikasikan baik di media elektronik maupun cetak, dan belum pernah diikutsertakan dalam sayembara lain.Naskah cerita yang dikirim dalam bentuk hardcopy atau soft copy (file word). Sertakan biodata singkat penulis, alamat lengkap, nomor telepon, dan fotokopi KTP. Cantumkan WRITE A STORY disebelah kiri atas amplop. Kirimkan naskah ke:

Panitia WRITE A STORY
Divisi Erlangga For Kids, Penerbit Erlangga
Jl. H. Baping Raya no. 100 Ciracas Pasar Rebo
Jakarta Timur 13740 Atau via email ke:  writeastory.efk at gmail.com

Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 naskah. Naskah yang masuk sepenuhnya menjadi milik panitia. Naskah paling lambat diterima tanggal 25 Maret 2010. Pengumuman pemenang tanggal 25 April 2010 Hanya naskah yang memenuhi syarat yang akan dinilai.

Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat. Peserta tidak dipungut bayaran apapun. Untuk keterangan lebih lanjut klik www.erlangga.co.id atau email ke  writeastory.efk at gmail.com , atau hubungi Marcomm Penerbit Erlangga di 8717006 ext. 229

Hadiah:

Juara I: Rp 5 juta dan hadiah sponsor
Juara II: Rp 3 juta dan hadiah sponsor
Juara III: Rp 2 juta dan hadiah sponsor
10 naskah terbaik akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Erlangga For Kids

Lomba III

SAYEMBARA PENULISAN LAKON REALIS
Hadiah utama: Rp 20.000.000 dan Rp 5.000.000 (dua lakon finalis)

Dalam dua dekade terakhir panggung teater Indonesia mengalami
kemerosotan drastis dalam kuantitas pementasan bergaya realis, seiring
dengan semakin banyaknya kemunculan “teater tubuh”. Sejumlah pengamat
pernah menyatakan bahwa dalam teater kita telah terjadi krisis aktor.
Hal itu mengacu pada kenyataan bahwa tidak banyak aktor yang
menunjukkan kepiawaian menghidupkan teks (dialog) dan membangun
karakter. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kelangkaan lakon
yang mengutamakan seni peran. Beberapa naskah jenis itu, yang sedikit
jumlahnya, terlalu sering dipentaskan ulang tanpa menawarkan
kesegaran. Sehubungan dengan itulah Komunitas Salihara
menyelenggarakan Sayembara Penulisan Lakon Realis.

Syarat-Syarat:
1. Tema bebas.
2. Ditulis dalam bahasa Indonesia.
3. Memperhitungkan durasi pementasan, antara 1 sampai 1,5 jam.
4. Tidak berbentuk monolog dan dibuat untuk dimainkan oleh maksimal 5
(lima) karakter/tokoh.
5. Belum pernah dipentaskan/diterbitkan sebagian atau seluruhnya dalam
bentuk apa pun.
6. Naskah diterima panitia paling lambat pada tanggal 30 Juni 2010.
7. Pementasan perdana naskah pemenang menjadi hak panitia.
8. Nama dan biodata pengarang ditulis pada lembar terpisah dari naskah.
9. Naskah dikirim rangkap 4 (empat) dalam amplop yang ditulisi
“Sayembara Penulisan Lakon Realis” di pojok kiri atas, ke:

Komunitas Salihara
Jl. Salihara 16, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12520

Pemenang dan Hadiah:
1. Dewan Juri akan memilih 3 (tiga) finalis dan menentukan 1 (satu)
lakon terbaik.
2. Pemenang akan diumumkan pada Festival Salihara, September 2010.
3. Lakon terbaik akan mendapatkan hadiah uang Rp 20.000.000,- (dua
puluh juta rupiah) dan dua lakon finalis lain masing-masing mendapat
uang Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah); pajak ditanggung penerima
hadiah.
4. Lakon terbaik akan dipentaskan untuk pertama kalinya di Teater
Salihara sebagai produksi Komunitas Salihara.

Dewan Juri dan lain-lain:
1. Dewan Juri terdiri dari 3 orang: Iswadi Pratama (penulis lakon dan
sutradara Teater Satu, Lampung), Zen Hae (penyair dan penulis cerita),
dan Seno Joko Suyono (wartawan budaya Koran Tempo, pengamat seni
pertunjukan).
2. Panitia (kurator dan seluruh karyawan Komunitas Salihara) dan
anggota Dewan Juri dilarang mengikuti sayembara ini.
3. Keputusan Dewan Juri akan dipertanggungjawabkan pada saat
pengumuman pemenang, dan tidak dapat diganggu-gugat.

Jakarta, 01 Januari 2010
Komunitas Salihara,
Panitia Sayembara Penulisan Lakon Realis

LOWONGAN BRI
PT Bank BRI (persero) TBK kanwil Banda Aceh Membuka kesempatan bagi putra-putri terbaik Aceh yang mempunyai integritas tinggi, ulet dan kompeten untuk bergabung dan mengisi posisi sebagai Associate Account Officer (AAO).

Persyaratan untuk bergabung adalah:
• Pendidikan minimal S-1 semua fakultas/jurusan terakreditasi
• Berasal dari PTN/PTS berkualifikasi baik
• IPK min 2,75 (skala 4)
• Berpenampilan menarik dan memiliki jejaring (network) luas
• Diutamakan memiliki pengalaman kerja bidang Account Officer Bank atau Marketing bidang perusahaan pembiayaan minimal 1 (satu) tahun
• Usia dibawah 31 tahun bagi yang mempunyai pengalaman bidang Account Officer/Marketing dan usia dibawah 26 tahun tanpa pengalaman kerja (belum berulang tahun ke-31/ke-26 pada tanggal 1 april 2010
• Diutamakan berdomisili di wilayah kerja PT Bank BRI (persero) tbk kanwil Banda Aceh (meliputi wilayah Nanggroe Aceh Darussalam / Propinsi Aceh)
• Memiliki Sim A dan/atau SIM C
• Pas Foto Warna 4×6 sebanyak 2 lembar
• FotoCopy Ijazah dan Transkrip yang telah dilegalisir
• Fotocopy Kartu Tanda Penduduk
• Fotocopy Surat Keterangan Catatan Kepolisian yang telah dilegalisir
• Surat Keterangan Belum Menikah, dan
• Surat Pernyataan Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah unit kerja BRI NAD/Aceh.

Seluruh Lamaran Lengkap beserta persyaratannya diantar langsung/dikirimkan ke :
Biro Psikologi Psikodinamika
Jalan Singgahmata no. 57 Blower. (samping Mie Pangsit Blower)
Banda Aceh. Kode Pos : 23243

Lamaran diterima mulai tanggal 24 maret s/d 6 april 2010 (lamaran di tutup pada pukul 17.00
WIB)

Inget ya.. lamaran dikirm langsung ke PSIKODINAMIKA.

No responses yet

Mar 18 2010

z2r1

Pohon Pionir yang Bekerja tak Kenal Lelah

Filed under Tak Berkategori

Saat pohon-pohon ditebangi atau tumbang, hutan yang tadinya tertutup oleh rindangnya pohon mulai terbuka. Sinar matahari masuk hingga ke lantai hutan. Pohon-pohon besar yang tumbang akan menimpa pohon kecil yang ada di bawahnya. Jadilah hutan dalam keadaan terbuka. Udara mulai terasa panas dan kering serta angin mulai berhembus kencang.

Hutan yang terbuka menjadi tempat yang berat bagi tumbuhnya pohon berikutnya.
Udara panas dan kering, paparan matahari yang menyengat serta tak adanya pelindung bagi tanah saat hujan menerpa bumi merupakan lingkungan yang menyulitkan bagi tumbuhnya benih pohon. Hanya semak belukar dan alang-alang yang sanggup bertahan dengan kondisi lingkungan yang tidak nyaman itu.

Beberapa saat setelah hutan terbuka ternyata ada beberapa jenis pohon yang bersaing hidup bersama alang-alang dan semak belukar yang disebut dengan pohon pionir. Pohon pionir inilah yang dalam ilmu ekologi menjadi komunitas pertama dalam proses suksesi ekosistem hutan. Mereka tumbuh dengan cepat dan menaungi daerah yang terbuka. Dengan daunnya yang lebar dengan cepat tumbuh, mereka menaungi daerah sekitarnya sehingga mejadi sejuk dan lembab. Mereka tak pernah mengeluh untuk terus bertahan dan tumbuh meski di tempat yang keras dan tidak nyaman.

Pohon-pohon pionir terus tumbuh tinggi dan tajuknya melebar laksana payung. Lama-kelamaan semak dan alang-alang mulai terdesak dan akhirnya kalah bersaing dengan pohon pionir. Dedauanan yang digugurkan di lantai hutan sangat cepat membusuk dan menjadi pupuk bagi dirinya sendiri dan bermanfaat bagi makhluk lain. Daun-daun yang gugur inilah yang kemudian menjadikan tanah hutan yang tadinya kering dan miskin nutrisi kembali menjadi subur.

Pohon pionir juga rumah yang nyaman bagi semut . Semut bermain, mencari makanan dan menyimpannya di pohon pionir. Banyaknya semut di pohon pionir mengundang burung-burung datang untuk mendapat makanan. Burung mendapat makanan bergizi tinggi dari telur semut. Burung menjadi betah dan kemudian ikut bersarang. Sambil beraktifitas, burung juga menjatuhkan kotorannya ke lantai hutan. Jadilah tanah di sekitar pohon pionir semakin subur.

Tanah hutan yang mulai subur membuat banyak benih yang tadinya sulit tumbuh mulai bisa berkecambah. Tumbuhan yang masa kecilnya tidak tahan dengan terik matahari mulai berkembang dibawah naungan pohon pionir. Semakin lama semakin banyak jenis selain pohon pionir yang hidup. Pohon pionir telah memberikan kenyamanan bagi tumbuhnya pohon lain bersama dirinya.

Pohon-pohon lain yang tadinya berada di bawah naungan pohon pionir semakin lama makin membesar. Bahkan tinggi dan lebar tajuk pohon mereka melebihi pohon pionir. Pohon pionir kini mulai terdesak oleh pohon lain yang mulai menjadi dominan. Akhirnya setelah sekitar 10 tahun perjalanan hidupnya memberikan kenyamanan dan ruang tumbuh bagi sahabat-sahabat pohon lainnya pohon pionir akan mati.

Mereka mati setelah ada pohon lain yang menutupi dan menaungi dirinya. Mereka mati karena tak mendapat cahaya matahari yang cukup. Namun kematian mereka sangat berarti karena telah menjaga dan mengantarkan proses suksesi hutan berlangsung dengan baik. Kini hutan kembali menjadi lebat, dipenuhi satwa dan bermnafaat maksimal seperti sebelum rusak.

Dalam kehidupan kita, selalu saja ada orang-orang yang menjadi sosok pionir. Seorang pionir mempunyai karakter tak pernah mengeluh walau hidup di lingkungan yang keras dan terbatas. Sosok pionir selalu memberi energi positif bagi lingkungan hingga mereka mampu mengerakkan banyak orang berbuat kebaikan atau perubahan. Orang-orang bersifat pionir, tak peduli dengan apa yang diterimanya kelak. Mereka bekerja lebih dulu dan terus bekerja. Hasil kerja sang pionir membuat banyak orang mengikuti jejaknya

Dalam setiap proses perubahan atau suksesi sebuah komunitas masyarakat dari skala kecil sebuah kampung hingga skala dunia, selalu saja ada sosok pionir di dalamnya. Orang-orang pionir bekerja paling awal dan paling gigih. Sang pionir bekerja tanpa lelah meski awalnya berada dalam kesendirian, kesunyian, cercaan lingkungan dan ketidaknyamanan karena kekurangan harta, ketakutan dan kelaparan. Justru kepionirannya inilah membuat banyak orang terinspirasi untuk mengikuti jejaknya. Banyaknya orang yang terinspirasi dan bekerja bersama sang pionir maka akhirnya perubahan yang dicita-citakan masyarakat terwujud.

Manusia pionir selalu menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan dan perubahan. Tidak mudah menjadi pionir karena harus tahan dengan kekurangan fasilitas, cercaan dari teman, tidak dipedulikan karyanya dan bekerja tanpa tahu kapan berakhir. Tidak banyak yang ingin jadi pionir karena saat kebaikan meluas dan perubahan mulai terasa, mereka harus siap dilupakan, tidak disebut nama dan kiprahnya atau bahkan kerjanya di klaim orang lain. Sang pionir harus rela kerjanya tak dihargai orang bahkan dianggap tak pernah ada di lingkungannya.

Jadilah pionir meski tak harus mendapat penghargaan. Tetaplah bersifat pionir meski tak selalu selaras dengan promosi jabatan. Selalulah berkarakter pionir tanpa diberitakan media dan dibicarakan banyak orang.

Karena sosok pionir adalah pembuka pintu kebaikan. Karena menjadi pionir sumber berlipatgandanya pahala. Karena bekerja sebagai pionir akan melahirkan amal yang akan mengalir padanya tanpa pernah henti meski dia telah mati. Maka tak ada alasan kita yang diberi potensi dan kesempatan oleh-Nya menyia-nyiakan perbuatan mulia, menjadi Sang Pionir.

Selamat berkiprah sebagai Sang Ponir Sahabat!

* tajuk : bagian atas pohon yang dibentuk oleh pertumbuhan daun ranting dan cabang
pohon
Jenis pohon pionir contohnya, albizia sp, macaranga s, mallotus sp, dlll. Sifat umumnya cepat tumbuh, daunnya mudah hancur

oleh: Achmad Siddik Thoha

No responses yet

Older Posts »

  • Share |
  • Follow this site
  • blog

  • Peluang Kita

  • Adsense Indonesia
  • PageRank
  •  

    September 2010
    S S R K J S M
    « Jul    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  

  • ShoutMix chat widget
  • Subscribe
  • Subscribe
  • Belajar Dengan Menulis
  • Arsip

  • Kategori

  • Kategori